"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
Filipi 2:8
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 86; Roma 14; Ulangan 19-20
Saya sangat menginginkan menjadi
seorang pelayan yang memiliki hati seorang hamba. Dan hal ini saya lakukan.
Hanya saja, keinginan daging sering menang atas saya dan hati sebagai seorang hamba tersebut tertutupi oleh kesombongan saya.
Suatu hari, Roh Kudus membawa saya pada sebuah situasi
dimana saya harus menempatkan diri sebagai seorang hamba. Ada seorang wanita, seorang pelanggan, mendatangi apotek tempat saya bekerja sebagai apoteker.
Dia bukanlah wanita yang cukup
baik, sikapnya seperti seorang penagih hutang. Saya bisa mengatakan kalau wanita itu adalah
pribadi yang telah ‘mengamplas’ saya hari itu. Dalam kehidupan sehari-hari,
kita pasti pernah menghadapi seseorang yang bersikap 'mengamplas' tersebut -
adalah orang yang kehadirannya cukup menganggu dan mengubahkan hati kita dengan
cara yang tidak terduga.
Salah satu tujuan amplas adalah
untuk menghilangkan kotoran dari bagian terluar kayu, sehingga kayu itu
akhirnya siap untuk dicat atau diwarnai. Proses pengamplasan itu sangat sulit, bahkan menyakitkan, namun hal ini sangat diperlukan untuk menghasilkan sepotong kayu yang indah.
Tak perlu waktu lama untuk
menyadarkan saya bahwa Roh Kudus ingin menunjukkan sesuatu dalam hati saya.
Wanita ini mendatangi konter dimana saya berdiri dan mulai memberikan catatan pemesanan.
Kira-kira, dia berkata demikian,
"Kamu perlu
mengirimkan pesan melalui fax ke kantor dokter dan meminta mereka untuk memberi
kembali obat saya. Kamu
harus bisa mengusahakannya dan saya akan kembali setelah saya bertemu dengan
dokter." Pada akhir permintaan tersebut, tidak ada kata 'tolong' atau 'terimakasih'. Kalimatnya hanya berisi perintah.
Saya langsung meringis dan membatin,
"Jangan beri saya perintah, saya bukanlah pelayanmu." Untungnya, saya tidak
mengatakannya dan memilih untuk menutup mulut. Hal ini merupakan salah satu
langkah perubahan dalam kehidupan saya yang terbesar jika dibandingkan dengan saya pada masa lalu.
Saat itu juga saya merasa kalau
Roh Kudus menegur saya dengan mendorong tubuh saya kebelakang. Kemudian Ia
mengingatkan saya pada bagian ayat dalam Filipi 2 mengenai ajaran bahwa kita
harus memiliki hati seorang
hamba. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita harus mengasihi sesama seperti Yesus mengasihi kita.
Dia terus mendorong saya untuk
tidak melakukan apa pun yang berakhir sia-sia, Dia mengajarkan saya saat itu
untuk tetap rendah hati dan terus menganggap kalau orang lain lebih penting dari kita sehingga
sikap sombong tersebut hilang dari dalam diri saya. Saya kembali diingatkan untuk memiliki hati seorang hamba.
"Tapi, Yesus," gumam
saya. "Dia tidak pantas untuk dianggap lebih penting dari saya. Dia memperlakukan
orang lain dengan cara yang buruk." Seketika itu pula saya kembali
diingatkan kalau saya juga tidak pantas untuk menerima apa yang telah Yesus
lakukan bagi saya. Ia merendahkan diriNya dan datang ke dunia untuk mati di kayu salib bagi saya.
Saya ingin menjadi seorang wanita
dengan hati seorang hamba seperti Yesus. Kabar baiknya, Dia akan menolong untuk mempersiapkan saya
melayani orang lain, sekaligus mengampuni saya ketika saya gagal
memiliki hati sebagai seorang hamba. Hari itu, saya kembali diingatkan bahwa
ukuran seorang hamba dan kerendahan hati akan ditunjukkan oleh cara kita bereaksi ketika seseorang
memperlakukan kita sebagai seorang pelayan.
Hak cipta @Leah Adams ,
diterjemahkan dari cbn.com