1 Korintus 2: 9
Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 57; Markus 7; 2 Raja-raja 17
Aku suka memanjat pohon
dengan jeans biruku. Aku akan menaiki batang pinus yang tinggi yang tak bisa
dijangkau anak tetangga tanpa berdiri di atas sepedanya. Pohon-pohon itu jadi benteng, kastil dan rumah kaca untuk melamun.
Lengan dan kakiku gak lagi
bisa menskalakan pohon atau berayun di cabangnya. Tapi aku masih merasakan keajaiban saat aku mengintip melalui dahan yang rimbun.
Dapur kami berada dekat
dengan garasi. Crepe myrtle yang tumbuh di samping garasi akan menyebarkan cabang-cabangnya
yang indah di depan kaca jendela. Saat aku melihat keluar dari meja dapur, hatiku tersenyum. Aku tinggal di rumah pohon berpemanas dan ber-AC.
Aku tak memikirkan betapa aku
menikmati pemandangan dari pepohonan saat kami memilih rumah itu atau saat kami menanam crepe myrtle itu. Tapi Tuhan memikirkannya.
Meja dapur bundar kami, yang
berfungsi ganda sebagai tempat kerjaku, mengingatkanku pada saat-saat bahagia di
sekitar meja dapur nenekku. Max, pudel standar ajaibku, terikat ke Pepper, sebuah kenangan masa kecilku.
Di Yohanes 14: 2-3, Yesus
berkata “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat
tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi
ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ
dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Waktu aku menyadari bagaimana
Tuhan memulihkan kesenangan yang sudah lama hilang ini ditempat tinggalku di bumi, aku menjadi bersemangat.
Berapa banyak lagi rumah
surgawi akan dipenuhi dengan sentuhan-sentuhan khusus yang membuktikan
pengetahuan Tuhan yang mendalam tentangku? Sukacita apa lagi yang menanti kita di surga?
Ini tak hanya membantu kita menghadapi
kematian kita sendiri, tapi juga melunakkan kesedihan yang kita rasakan saat kita kehilangan orang yang kita kasihi.
Saat putri kamu lulus kuliah,
dia ingin tinggal di Swiss yang berbahasa Prancis. Perasaan campur aduk
berputar di dalam diriku saat dia mendapatkan pekerjaan di sana. Aku
bersukacita atasnya bahwa mimpinya menjadi kenyataan. Tapi air mata menetes dari
mataku, setelah pelukan terakhir kami, dia berbalik untuk melewati keamanan bandara. Aku tak yakin kapan aku akan melihatnya lagi.
Waktu kita kehilangan orang
yang kita kasihi, kita ikut berduka. Kita tahu kita akan sangat merindukan mereka.
Tapi saat kita melihat mereka menjalani impian besar mereka, kita juga turut bersukacita atas hal itu.
Surga bisa menjadi tempat
yang lebih baik untuk melamunkan masa kecil kita. Pemandangan indah itu akan
mengalahkan apapun.
Pertanyaannya, dalam hal apa Tuhan mengabulkan keinginan hatimu? Bagaimana hal itu meningkatkan harapanmu tentang surga?
Hak cipta Debbie W. Wilson,
digunakan dengan ijin.