Empati yang Menggerakkan Kebaikan

Renungan Harian / 10 July 2026

Empati yang Menggerakkan Kebaikan
Lori Official Writer
      80

1 Yohanes 3:17-18

“Tetapi barangsiapa mempunyai harta duniawi, lalu melihat saudaranya dalam kesusahan dan menutup diri dari belas kasihannya, bagaimana kasih Allah dapat tinggal di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau lidah saja, tetapi dengan perbuatan dan kebenaran.”

 

Hari-hari ini, kita mudah sekali melihat berita kemalangan di layar ponsel. Ada yang kekurangan, menderita atau sedang terluka, tetapi kita hanya bisa berkata "Duh kasihan." Kemudian kita melanjutkan aktivitas kita. Kita mungkin masih punya rasa empati terhadap penderitaan orang lain, tetapi itu hanya terhenti di ucapan kita saja. 

Di dalam 1 Yohanes 3:17-18, Yohanes berbicara dengan sangat jelas. Ia tidak sedang membahas kasih sebagai konsep yang indah, tetapi sebagai gaya hidup orang percaya. Dia menegaskannya dengan sebuah pertanyaan yang menohok: "Bagaimana mungkin kasih Allah tinggal dalam diri seseorang yang melihat saudaranya dalam kesusahan, memiliki kemampuan untuk menolong, tetapi memilih menutup hati?"

Ketika kita benar-benar melihat penderitaan orang lain, hati kita tidak akan memilih diam. Kita tidak hanya melihat masalah mereka dari jauh, tetapi ikut merasakan beban yang mereka pikul. Dari sanalah belas kasihan lahir, lalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

Yesus sendiri telah menunjukkan kasih yang tidak hanya diucapkan, tetapi diberikan. Ia datang, melayani, menyembuhkan, mengampuni, bahkan menyerahkan nyawa-Nya bagi manusia berdosa (Filipi 2:6-8, Ibrani 4:14-16). Kasih Kristus adalah kasih yang turun tangan. Karena itu, orang yang telah menerima kasih Allah seharusnya juga menjadi saluran kasih bagi sesamanya.

Saudara, kebenarannya adalah dunia di sekitar kita tidak membutuhkan lebih banyak orang yang tahu tentang kasih. Tetapi mereka membutuhkan lebih banyak orang yang membagikan kasih itu. Artinya, hidup kita perlu terlihat dalam cara kita peduli terhadap orang yang lapar, menguatkan yang lemah, mendampingi yang terluka, dan menolong mereka yang bahkan tidak mampu membalas kebaikan kita.

 

Refleksi Pribadi:

Adakah orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan perhatian, pertolongan, atau sekadar kehadiran? 

Mintalah Tuhan melembutkan hati kita, agar empati tidak berhenti hanya sekadar perasaan semata, tetapi menjadi Tindakan kebaikan.

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?