Harapan Orang Benar Membawa Sukacita
Kalangan Sendiri

Harapan Orang Benar Membawa Sukacita

Liana M. Tapalahwene Contributor
      958

Amsal 10:28

Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

Harapan adalah sebuah keinginan yang kuat sebagai langkah awal menuju kenyataan. Dalam menjalani tahun 2023 ini, saat kita mulai membuka lembaran baru, ada doa dan harapan yang tentunya kita panjatkan kepada Bapa Sang Pemilik kehidupan kita.

Dalam pembacaan lain di kitab Ibrani 6:19, dikatakan bahwa: "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir." Sauh atau jangkar merupakan alat penambat kapal agar tidak berpindah tempat karena pengaruh dari luar seperti hembusan angin, arus ataupun gelombang.

Dalam melayari samudera kehidupan, tentunya perjalanan kita tidak serta merta mulus dan berjalan lancar, terkadang ada arus, angin dan gelombang masalah yang menerpa. Namun, apakah kita sudah menggunakan peralatan perlengkapan yang tepat agar kita bisa tetap bertahan?

Saudara terkasih, berharap kepada Tuhan tentunya merupakan bagian sentral yang harus kita lakukan, namun dikatakan juga bahwa ada usaha yang harus kita lakukan. Karena kita harus mengingat bahwa hidup kita ini terus beranjak dan berjalan. Jadi mari tetap kerjakan keselamatan yang ada dalam kita dengan kesungguhan hati.

Melalui kitab Amsal ini, kita belajar tentang perkataan hikmat yang berisi kebenaran dan petunjuk. Amsal 11:19 berkata "Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup, tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian."

Kekasih-kekasih Tuhan, ketika kita belajar tentang harapan yang membawa sukacita, maka kita akan melihat tentang apa yang menjadi dasar kita berharap. Saat kita memiliki apa yang kita harapkan, yang membuat kita merasa sangat begitu puas, maka kita dalam hal ini menaruh harapan kita akan sesuatu yang terdapat di masa depan dan yang tidak tampak.

"Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25)

Jadi maksud semua itu adalah bahwa kita tidak melihat apa yang kita miliki saat ini, melainkan apa yang kita harapkan. Dan pengharapan yang kita bangun adalah pengharapan yang akan segera menghasilkan buahnya, dan itulah yang akan menjadi sukacita kekal bagi kita. Mari masuk dan turut dalam kebahagiaan tuan kita yang memberi hari depan yang penuh kedamaian.

Tuhan Yesus memberkati.

 

Renungan ini ditulis oleh Liana M. Tapalahwene, S.Kom.

Ikuti Kami