Apakah Setia sama dengan Komitmen?
Kalangan Sendiri

Apakah Setia sama dengan Komitmen?

Riris Neil Yulinar Pakpahan Contributor
      273

Amsal 20:6-7

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Orang benar yang bersih kelakuannya-berbahagialah keturunannya.”

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 28; Matius 28; Keluaran 5-6

Ketika kita mengikuti berita-berita tentang selebriti tanah air, tak jarang kita mendapat informasi yang sangat lengkap tentang bagaimana sebuah pernikahan direncanakan. Mulai dari acara lamaran dengan seserahan yang bernilai fantastis, hingga resepsi yang merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah, bahkan miliaran. Ditambah pameran foto-foto pernikahan yang terlihat sangat istimewa dan elegan.

Namun hanya dengan hitungan jari, maka pernikahan mewah tersebut berakhir dengan perceraian. Alasan demi alasan disampaikan sebagai pembelaan diri muncul satu persatu di media.

Pernikahan Kristen bukanlah pernikahan seumur jagung. Pernikahan Kristen adalah pernikahan sakral yang hanya bisa diselesaikan saat maut memisahkan. Janji setia di awal hendaknya menjadi janji hingga akhir.

Dalam kehidupan perkawinan bentuk fisik, penyakit, ekonomi, menjadi bagian dalam masa ujian. Apakah pasangan suami istri mampu bertahan disaat penyakit mengubah fisik pasangan. Ekonomi yang tiba-tiba merosot juga menjadi bagian dari pertanyaan yang harus dijawab, manakala tuntutan untuk bisa makan agar tetap hidup terjadi.

Kunci dari sebuah kesetiaan adalah KOMITMEN. Komitmen yang diucapkan di awal pernikahan hendaknya menjadi pegangan untuk bisa tetap berdiri teguh dalam goncangan kehidupan rumah tangga. Ketaatan dan penundukan diri satu dengan yang lain, bahkan perjuangan untuk menyelesaikan setiap masalah bersama-sama menjadi hal penting dalam pernikahan.

Ingatlah bahwa kesetiaan yang kita miliki sebenarnya menunjukkan kualitas hidup kita. Lewat kesetiaan yang terus kita upayakan dan bangun akan membuahkan banyak kebaikan yang akan dinikmati oleh banyak orang di sekitar kita.

Pandanglah Allah untuk kita bisa melakukan kesetiaan, karena Allah kita adalah setia.

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” (1 Tesalonika 5:24)

Ikuti Kami