Matius 20: 27
dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu,
hendaklah ia menjadi hambamu..
Bacaan Alkitab Setahun: [kitab]Mazmu43[/kitab]; [kitab]Kisah15[/kitab]; [kitab]Kelua35-36[/kitab]
Leslie menceritakan
suatu kisah yang membuatku berpikir soal diriku sendiri. Dia bercerita waktu dia
bekerja di ruang anak di gereja pada satu acara di akhir pekan. Tiba-tiba dia mencium
bau menyengat dari seorang anak kecil di depannya, pertanda dia perlu ganti popok.
Sambil menaikkan
anak itu ke atas meja, Leslie mulai mengganti popoknya. Walaupun dia bekerja dengan
cepat, tapi Leslie masih bisa mencium bau itu. Sambil memutar kepalanya ke samping, dia berusaha menahan mual, yang pada akhirnya tak sanggup ditahannya.
Melihat penderitaan
Leslie, Don, rekan kerjanya di ruang anak seberang, mendekati wanita itu dan segera membantu. Sambil melangkah, dia meraih kaki gemuk anak itu dan berkata, "Sini, biar saya saja."
Leslie dengan
segera menyingkir dan pergi melanjutkan pekerjaannya. Dengan perasaan lega, dia berjalan ke arah ruangan seberang dan menghirup udara segar.
Yang membuatku
merasa terkesan, bukan karena Don adalah seorang pria. Tapi dia adalah pendeta gereja
kami. Belas kasih dan kerendahan hatinya ditunjukkan dengan jelas waktu dia mengambil
alih pekerjaan Leslie. Tindakan pendeta Don berbicara lebih keras daripada kata-kata
yang mungkin diucapkannya. Dan karakter Allah tercermin dalam tindakannya yang sederhana.
Aku pun mulai
berpikir, ‘Apakah tindakanku sudah mencerminkan Tuhan yang aku layani? Apakah akum
au melayani bahkan waktu aku harus melakukan pekerjaan menjijikkan seperti itu?
Yesus saja mau
mengikat handuk di pinggangnya dan membungkuk untuk membasuh kaki kotor murid-murid-Nya.
Tindakan mengejutkan dan nggak terduga ini membuktikan betapa pentingnya saling
melayani dalam kerendahan hati. Dua ribu tahun kemudian, tepatnya hari ini, tindakan itu masih terus dipuji dan diteladani oleh dunia.
“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia
mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia
menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya
lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yohanes 13: 4-5)
Aku tiba-tiba
teringat dengan tindakan kerendahan hati Tuhan. Aku bersyukur atas kesempatan yang
diberikan untuk bisa melayani keluargaku dengan celemek yang terikat di pinggangku.
Aku mau jadi seperti Dia yang mengasihiku dengan kasih yang kekal. Hidupku hanyalah
untuk mencerminkan kasih Kristus, seperti yang dilakukan pendeta Don.
Memang aku tak sampai membasuh kaki suami dan anak-anakku. Tapi tindakanku untuk melayani mereka dengan hidangan makan malam itu sudah mencerminkan kerendahan hati seorang hamba. Semoga, saat aku melayani keluarga dan orang lain di sekitarku, banyak jiwa yang kemudian dibawa kepada Tuhan dan hidup mereka diubahkan.
Pelajaran kerendahan hati dimulai saat kita mau menanggalkan
label yang melekat di diri kita dan mengambil posisi sebagai hamba untuk melayani
orang lain