Katakan Tidak untuk Malas
Kalangan Sendiri

Katakan Tidak untuk Malas

Hermanto Nugroho Contributor
      1231

Efesus 4:28

Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

 

Bacaan setahun : Mazmur 97; Lukas 18; 2 Raja-raja 24-25

Ada yang berkata, “Kemalasan itu mahal.” Lho kok bisa? Karena kemalasan, orang harus membayarnya dengan kemiskinan. Karena kemalasan dalam berolahraga, orang harus membayarnya dengan berbagai penyakit. Kemalasan membuat orang menjadi pencuri. Orang yang tidak mau bekerja dan malu jadi pengemis, malah membuka selebar-lebarnya pintu godaan untuk menjadi pencuri. Ini sudah pasti bukan tanda dan ciri manusia baru.

Menjadi manusia baru itu memiliki ukuran yang sangat tinggi. Bukan hanya melakukan suatu kegiatan rohani, tetapi lebih dari itu. Bekerja dengan rajin disertai kejujuran adalah keharusan sebagai manusia baru. Kejujuran yang lahir bukan hanya sekadar tindakan saja tetapi juga hati. Bekerja adalah keharusan, seperti Allah yang tidak pernah “nganggur”, Ia masih terus bekerja. Matahari masih ada pada porosnya. Bumi dan planet lain masih di orbitnya, itu adalah bukti Tuhan masih bekerja. Jadi manusia wajib bekerja, kalau tidak bekerja maka dilarang makan (2 Tesalonika 3:10).

Tuhan menginginkan kita mampu menghidupi diri sendiri dari tangan sendiri. Berkat Tuhan tidaklah turun dengan sendirinya dari langit, tetapi harus diupayakan dengan kerja keras. Tidak ada berkat datang dengan hanya melipat tangan berdoa, tetapi datang karena bekerja.

Bekerja dengan rajin bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau keluarga, tetapi agar kita bisa berbagi dengan orang lain. Kita harus bisa membagikan sesuatu untuk menutupi orang yang berkekurangan. Allah harus mendapatkan apa yang layak didapat-Nya, dan kaum miskin adalah penerima untuk Dia (Matius 25:40).

Tidaklah pantas kita disebut manusia baru, jika masih malas memaksimalkan setiap talenta dan karunia yang Ia karuniakan. Ia berikan itu bukan hanya agar kita bisa berdiri dengan kaki sendiri tetapi juga inginkan kita agar bisa menopang kaki yang lain. Kita tidak boleh egois, perhatikan juga kebutuhan orang lain.

Ikuti Kami