Diam di Tengah Tuduhan
Kalangan Sendiri

Diam di Tengah Tuduhan

Lori Official Writer
      139

Yesaya 53:7

"Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya."

 

Jauh sebelum kelahiran Yesus, nabi Yesaya telah menubuatkan tentang Mesias yang akan datang—bukan sebagai raja yang berkuasa, tetapi sebagai Pribadi yang rela menderita demi penebusan manusia. Salah satu gambaran paling kuat adalah sikap-Nya yang memilih diam di tengah aniaya dan tuduhan (Yesaya 53:7).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun tidak luput dari situasi yang menyakitkan—diejek, disalahpahami, bahkan difitnah. Respons yang paling umum adalah membela diri, melawan, atau berusaha membuktikan bahwa kita benar. Terlebih ketika kita merasa tidak bersalah.

Namun Yesus menunjukkan respons yang berbeda.

Ketika dihadapkan pada tuduhan para imam dan pemimpin agama, Ia tidak sibuk membela diri. Ia hanya menjawab seperlunya (Matius 26:62–64). Bahkan saat disiksa—dipukul, diludahi, dan dimahkotai duri—Ia tetap diam. Yesus tidak terpancing emosi, karena Ia fokus pada misi-Nya: menggenapi rencana keselamatan Allah.

Seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 2:23, “Ketika Ia dihina, Ia tidak membalas; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam.” Sikap diam Yesus bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari ketaatan dan kepercayaan penuh kepada Bapa.

Sebaliknya, orang-orang yang menuduh-Nya justru mengakui kesalahan mereka sendiri ketika berkata, “Biarlah darah-Nya ditanggung oleh kami dan oleh anak-anak kami.” Tanpa disadari, mereka mengakui bahwa pengorbanan Yesus memang terjadi untuk menanggung dosa manusia.

Melalui momen Paskah ini, kita diingatkan bahwa menjadi serupa dengan Kristus adalah sebuah proses seumur hidup. Seperti tertulis dalam Filipi 2:6, Yesus tidak mempertahankan hak-Nya, melainkan merendahkan diri sepenuhnya.

Mungkin kita belum mampu sepenuhnya meneladani-Nya. Namun kita bisa mulai belajar—menahan diri, tidak selalu merasa perlu membela diri, dan percaya bahwa Tuhan adalah pembela kita yang sejati.

 

Refleksi Pribadi:

1. Apakah saya mudah terpancing untuk membela diri saat disakiti atau dituduh?

2. Dalam situasi apa saya paling sulit untuk memilih diam?

3. Bagaimana saya bisa belajar mempercayakan pembelaan saya kepada Tuhan?

Ikuti Kami