Kuasa Tuhan yang Mengalir Melalui Kelemahan
Kalangan Sendiri

Kuasa Tuhan yang Mengalir Melalui Kelemahan

Lori Official Writer
      102

2 Korintus 12: 9 

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.' Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun." 

 

Kita hidup di tengah budaya yang sangat mengagungkan kemandirian, pencapaian, dan citra diri yang sempurna. Di dunia kerja dan juga sosial, mengakui keterbatasan seringkali dianggap sebagai tanda kegagalan atau kelemahan. Kita merasa harus selalu memiliki jawaban, selalu kuat, dan selalu mampu mengatasi segala persoalan sendirian.   

Tetapi kita akan belajar dari respons Rasul Paulus yang terlihat begitu radikal, selalu bersemangat dan tak kenal lelah di dalam melayani Tuhan. Dia berkata bahwa ada kelemahan yang begitu mengganggunya selama ini yaitu "duri dalam daging" (2 Korintus 12:7). Tiga kali dia memohon kepada Tuhan supaya beban itu diangkat. Mari melihat bagaimana sosok yang terlihat kuat ini dengan rendah hati mengakui kelemahannya di hadapan Tuhan. Lewat pengakuan inilah Tuhan menjanjikannya sumber kekuatan yaitu "kasih karunia"

Tapi bagaimana dengan kita? Ada berapa banyak diantara kita yang memilih terlihat baik-baik saja dan kuat walaupun ada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa Anda pikul sendirian? Mungkin Anda adalah seorang pemimpin yang dituntut untuk selalu berwibawa, seorang suami yang harus terlihat Tangguh di hadapan istri dan anak-anak, atau seorang hamba Tuhan dan pelayan yang harus terlihat tersenyum dan bersukacita ketika kita merasa begitu lemah di suatu waktu. Kita terkadang menyembunyikan kelemahan kita di balik posisi.  

Saudara, mengakui kelemahan bukanlah tanda bahwa kita gagal menjadi seorang pemimpin, atau suami, atau bahkan menjadi seorang pelayan. Tuhan juga menghendaki kita untuk terbuka dan jujur terhadap hati kita. Dan disinilah Dia mau bekerja melalui kuasa-Nya yang tak terbatas, seperti disampaikan kepada Paulus "Cukuplah kasih karuniaKu".  

Saat kita berkata dengan jujur, "Tuhan, aku lemah dalam hal ini", atau saat kita berani meminta dukungan dari orang lain, di situlah kasih karunia Tuhan dicurahkan. Tuhan menghargai hati yang tulus, karena kuasa-Nya bekerja tidak melalui orang-orang yang mencoba menyembunyikan kelemahannya sendiri tetapi dari keberanian untuk mengakuinya. 

 

Refleksi Pribadi: 

1. Sebutkan kelemahan apa saja yang selalu Anda coba tutupi dari Tuhan maupun orang lain?  

2. Hari ini bersediakah Anda untuk mengakuinya kepada Tuhan dan bahkan terbuka untuk membagikannya kepada seseorang yang bisa membantu Anda? 

Ikuti Kami