Ketika Orang Fasik Tampak Mujur dan Orang Benar Tampak Buntung

Renungan Harian / 23 October 2026

Ketika Orang Fasik Tampak Mujur dan Orang Benar Tampak Buntung
Lori Official Writer
      205

Mazmur 73:2-3

"Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik."

 

Kemarin pagi di satu sharing departemen di kantor, seorang teman membagikan perjalanannya bekerja melayani Tuhan sudah lebih dari 20 tahun. Dia rela bekerja ekstra, memberikan apa yang dia bisa berikan untuk Tuhan. Tapi dalam perjalannya, dia justru menemukan dirinya harus sakit, pernah kena serangan jantung dan terakhir dia menjalani operasi.

Di titik terendah itu, sebuah pertanyaan jujur keluar dari hatinya: "Aku sudah memberikan segalanya untuk Tuhan, tapi mengapa justru aku yang harus jatuh sakit?"

Pertanyaan ini bukan hanya pergumulan satu orang, ini adalah cerminan dari apa yang sering kita rasakan. Kita sudah berusaha hidup jujur dan benar, tetapi hidup kok malah selalu buntung? Keuangan sulit, jalan kehidupan tak pernah mudah, begitu juga dengan doa-doa yang tak ada jawaban. Sementara di saat yang sama, kita menyaksikan orang-orang yang mengabaikan nilai kebenaran justru hidupnya tampak mujur, mudah, dan bahagia.

Ini adalah paradoks yang nyata terjadi dalam hidup. Terlihat tidak adil memang, dan kita tidak merasakannya sendirian. Asaf, seorang pemimpin pujian di Bait Allah, dengan jujur juga mengaku bahwa kakinya nyaris terpeleset karena cemburu melihat kemujuran orang fasik atau orang yang melakukan banyak tindakan menyimpang dari Firman Tuhan (Mazmur 73:2-3). 

Ia melihat orang jahat hidup tenang tanpa kesusahan, sementara dirinya yang menjaga hati tetap bersih justru merasa ditimpa masalah setiap hari (ayat 13-14). Asaf bahkan sempat mempertanyakan apakah kesetiaannya melayani Tuhan sia-sia?

Namun, Asaf sampai pada satu titik perenungan yang mendalam - bahwa kemana akhir setelah kehidupan ini adalah yang terpenting.  Seperti yang ia ucapkan dalam Mazmur 73: 16-17, "Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka."

Saudara, terkadang kita bisa berada di posisi membandingkan diri dengan orang lain. Semuanya muncul karena kita melihat apa yang kelihatan saja. Tetapi Ketika kita mencari Tuhan dan tinggal tenang di dalam Dia, cara kita memandang hidup berubah. Semua yang tampak berharga bagi dunia akan tampak menjadi tidak berarti. Tuhan Yesus menekankan satu pelajaran penting, seperti disampaikan dalam Markus 8: 36,  "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?"

Dia sedang menegaskan apa yang disampaikan Mazmur 37: 1-2, "Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau." 

Asaf akhirnya menyadari bahwa kekayaan sejati bukanlah materi yang fana, melainkan penyertaan Tuhan (Mazmur 73: 25). Menjadi iri hati adalah hal yang manusiawi. Tetapi kebenaran Firman hari ini semoga menjadi pengingat bahwa Tuhan menetapkan langkah setiap orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Keadaan yang tampak tidak adil di dunia, bukan berarti Tuhan sedang melakukan pembiaran, sebaliknya Dia mau fokus kita beralih kepada yang terpenting. Selama kita hidup, jangan biarkan kemakmuran orang fasik membuat kita menyimpang dari Firman-Nya.  

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Kapan terakhir kali kamu merasa iri melihat hidup orang lain yang lebih baik dari hidupmu? 

2. Jujurlah mengakui perasaanmu yang mengeluh karena ketidakadilan di hadapan Tuhan, dan biarkan Dia berbicara secara pribadi atas hatimu.    

 

Baca Juga Renungan Lainnya:

Tabib Bagi Hati yang Luka

Saat Orang Tercinta Pun Menyalahkanmu

 

Memperoleh Hikmat Saat Mengambil Keputusan Besar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?