Bangkit dari Jatuh dan Melangkah Dengan Berani
Kalangan Sendiri

Bangkit dari Jatuh dan Melangkah Dengan Berani

Lori Official Writer
      215

Ayat Renungan: Mikha 7: 8 “Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.”

 

Setiap kita pernah jatuh. Tahun yang telah berlalu mungkin menyisakan kegagalan, penyesalan, keputusan yang keliru, atau harapan yang tidak tercapai. Ada mimpi yang runtuh, relasi yang retak, pelayanan yang terasa mandek, atau iman yang sempat melemah. Dalam kondisi seperti ini, kita mudah merasa kecil, tidak layak, bahkan ragu untuk melangkah lagi. Namun Firman Tuhan hari ini menegaskan satu kebenaran penting: jatuh bukanlah akhir dari perjalanan hidup orang percaya.

Alkitab penuh dengan kisah pria dan wanita yang pernah kehilangan hampir segalanya, namun tidak berhenti di titik kegagalan. Ayub mengalami penderitaan yang begitu berat, tetapi tetap memilih percaya kepada Tuhan. Rut keluar dari kepahitan menuju pengharapan karena kesetiaannya kepada Allah. Daud jatuh dalam dosa yang serius, namun ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan mengalami pemulihan. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja bukan melalui hidup yang sempurna, melainkan melalui hati yang mau kembali berharap kepada-Nya.

Dalam Mikha 7: 8, nabi Mikha menyatakan iman yang jujur sekaligus berani. Ia tidak menutupi kenyataan bahwa ia jatuh dan hidup dalam kegelapan. Ia mengakui kelemahan dan keadaan yang sulit. Namun, pengakuan itu tidak berhenti pada kejatuhan. Dengan iman ia berkata, “Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula.” Ini adalah pernyataan iman yang menolak menjadikan kegagalan sebagai identitas hidup.

Sering kali, kegagalan membuat fokus kita bergeser. Kita lebih banyak melihat kesalahan daripada kasih karunia, lebih mendengar suara tuduhan daripada suara Tuhan. Tanpa disadari, rasa bersalah dan takut melumpuhkan langkah iman kita. Padahal, kesulitan tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Justru di tengah proses yang berat itulah Tuhan sedang membentuk ketekunan, kerendahan hati, dan ketergantungan penuh kepada-Nya.

Ketika Mikha berkata, “TUHAN akan menjadi terangku”, ia sedang menegaskan sumber pengharapannya. Terang itu bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan dari Tuhan yang setia. Terang Tuhan tidak menunggu keadaan membaik; terang itu hadir di tengah kegelapan. Firman ini mengingatkan kita bahwa selama Tuhan masih menjadi terang kita, selalu ada jalan untuk bangkit dan melangkah kembali.

Karena itu, jangan biarkan kegagalan masa lalu menahan Anda di tempat yang sama. Jangan menunggu sampai merasa sempurna atau kuat untuk memulai lagi. Bangkitlah dengan iman yang bersandar pada firman Tuhan, bukan pada perasaan. Ambillah satu langkah kecil hari ini—kembali berdoa, kembali berharap, kembali taat. Tuhan yang sama yang setia menolong umat-Nya dahulu, adalah Tuhan yang setia menopang hidup kita hari ini. Sekalipun kita jatuh, di dalam Tuhan selalu ada kekuatan untuk bangun dan melangkah dengan berani.

 

Momen Refleksi:

Ambil waktu untuk membaca Mikha 7: 8 secara mendalam. Lalu tuliskan satu kegagalan atau kekecewaan yang masih Anda bawa hingga saat ini. Serahkan kepada Tuhan dalam doa, lalu ambil satu langkah konkret sebagai tanda Anda memilih bangkit—apapun bentuknya, sekecil apapun itu.

Ikuti Kami