1 Samuel 14:6-7
"Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang." Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: "Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat.""
Kisah Yonatan dan pembawa senjatanya bukan hanya tentang keberanian menghadapi musuh, tetapi tentang kekuatan ketika dua orang berjalan bersama dalam iman. Yonatan tidak datang dengan kepastian hasil. Ia hanya berkata, “Mungkin Tuhan akan bertindak bagi kita.” Ada iman, ada keberanian, tetapi juga ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa Tuhanlah yang menentukan segalanya.
Namun perhatikan satu hal penting dari kisah ini yaitu Yonatan tidak pergi sendirian. Di sisinya ada seorang pembawa senjata yang berkata, “Aku menyertai engkau sepenuh hati dan jiwa.” (1 Samuel 14: 6-7). Kalimat ini sederhana, tetapi penuh makna. Ia tidak menawarkan strategi hebat atau kekuatan tambahan. Ia menawarkan dirinya. Komitmennya. Kesetiaannya.
Di situlah pelajaran tentang kuasa dari berjuang bersama dengan orang yang memiliki ketulusan dan kesetiaan. Dalam setiap pertempuran hidup—entah itu pergumulan keluarga, tekanan pekerjaan, krisis keuangan, atau pergumulan iman—kita tidak dipanggil untuk menghadapinya sendirian. Tuhan memang sanggup menyelamatkan dengan banyak atau sedikit orang, tetapi Ia sering memilih bekerja melalui kebersamaan. Melalui sahabat yang berdiri di samping kita. Melalui keluarga rohani yang menopang dalam doa.
Ada kekuatan relasi yang terbangun ketika kita saling mendukung di tengah kesulitan. Hubungan menjadi lebih dalam bukan saat semuanya baik-baik saja, tetapi saat kita bertahan bersama dalam badai. Sebagai tubuh Kristus, kita tidak diciptakan untuk saling bersaing atau saling menjatuhkan. Kita dipanggil untuk saling menguatkan. Ketika satu orang menang, seluruh tubuh ikut bersukacita. Ketika satu orang terluka, seluruh tubuh ikut merasakan.
Berjuang bersama berarti hadir. Mendengar. Mendoakan. Berdiri di samping, bukan menjauh. Kadang yang dibutuhkan bukan solusi instan, tetapi seseorang yang berkata, “Aku di sini. Kita hadapi ini bersama-sama.”
Refleksi Pribadi:
1. Apakah saya sedang mencoba untuk berjuang sendiri mengerjakan sesuatu yang Tuhan percayakan?
2. Siapa yang Tuhan tempatkan di sekitar saya untuk berjalan bersama?
Jangan berjalan sendiri. Tuhan sering menghadirkan kemenangan bukan hanya dengan mengandalkan kekuatan iman kita secara pribadi, tetapi melalui kebersamaan yang saling menguatkan.