Dua Pengintai dan Rahab Sang Perempuan Sundal
Kalangan Sendiri

Dua Pengintai dan Rahab Sang Perempuan Sundal

Puji Astuti Official Writer
      1381

Ayat Renungan 

Yosua 2:24, Kata mereka kepada Yosua: "TUHAN telah menyerahkan seluruh negeri ini ke dalam tangan kita, bahkan seluruh penduduk negeri itu gemetar menghadapi kita." 

Kisah dalam Yosua 2 sangat menarik, bagaimana Yosua mengirimkan hanya 2 orang pengintai untuk menyelidiki Yerikho.  Pengintai pertama kali bertemu Rahab di rumah pelacuran di pinggiran kota. Rahab, adalah seorang perempuan sundal, namun ia tahu tentang kekuatan Allah Israel. Dalam percakapan mereka, Rahab memberikan gambaran yang jelas tentang ketakutan yang melanda penduduk Yerikho, menggambarkan kengerian mereka akan kekuatan dan kebesaran Allah Israel. 

Rahab menjelaskan kepada kedua pengintai Israel tersebut, “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.” (Yosua 2:9) 

Pernyataan Rahab inilah disampaikan kepada Yosua (Yosua 2:24), dan menjadi dasar mereka untuk memasuki Tanah Perjanjian dan menaklukan Yerikho. Siapakah Rahab, mengapa kedua pengintai tersebut percaya kepadanya? Faktanya Alkitab menulis bahwa Rahab adalah perempuan sundal, atau pelacur.  Bagaimana Rahab begitu yakin bahwa Allah Israel begitu menakutkan dan membuat orang-orang di negerinya gemetar?  

Berada di tempat pelacuran, ada banyak orang yang datang dari berbagai kalangan dan bisa diperkirakan peredaran informasi sangat cepat. Bangsa Israel berada di padang gurun selama 40 tahun, jadi bisa dikatakan bagaimana Allah Israel berjalan di depan bangsa itu dalam rupa tiang awan dan tiang api menjadi berita sensasional selama puluhan tahun. Rahab bukan hanya pendengar pasif, dia adalah wanita cerdas yang melakukan analisa dengan baik berita yang mungkin sudah ia dengar sejak masih kecil. Ia membuat keputusan untuk mempercayai Allah Israel dan mendapatkan belas kasihan-Nya agar menyelamatkan seluruh keluarganya.  

Kisah 2 pengintai dan Rahab memberi kita beberapa pelajaran, yang pertama bahwa kuasa dan kebesaran Tuhan adalah sebuah kesaksian yang efektif. Bahkan diceritakan oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, dapat Tuhan pakai untuk menjangkau mereka yang sudah ditentukan Allah dari semula untuk menjadi alat-Nya. Seperti Rahab yang mungkin mengenal Israel dari mulut mereka yang mengunjungi tempat pelacuran. Jadi, bukankah lebih luar biasa lagi jika kita sebagai orang percaya yang mengalami secara pribadi kasih Tuhan menjadi saksi kepada setiap orang yang kita temui? Kita tidak pernah tahu kapan benih yang kita tabur tertanam dan menghasilkan buat pertobatan. Bagian kita adalah menabur kapan saja dan dimana saja, kepada siapapun itu.  

Kedua, mari kita belajar dari sudut pandang dua pengintai dalam kisah ini. Mereka tidak memandang rendah Rahab, bahkan sangat mempercayai perkataannya dan mengutipnya saat memberi laporan kepada Yosua. Di pasal selanjutnya kita dapat menemukan bahwa kedua pengintai itu juga memenuhi janji mereka kepada Rahab, sehingga Rahab dan seluruh keluarganya diselamatkan bahkan menjadi bagian dari bangsa Israel. Apakah kita bisa bersikap seperti mereka, tidak memandang muka ataupun status sosial seseorang saat berinteraksi. Sebaliknya dengan penuh kasih menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menunjukkan kasih dan kesetian-Nya kepada mereka yang belum mengenal Tuhan.  

Ketiga, seperti kedua pengintai itu perlu kita sadari bahwa saat ini setiap kita juga sedang mengemban misi Allah. Benar, di dalam Kristus kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri lagi, tapi hidup untuk menggenapi apa yang menjadi kerinduan dan kehendak Tuhan. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkah kita hidup untuk misi Allah atau masih untuk kehendak diri sendiri?  

Action : Mari kita lakukan ketiga poin di atas, menjadi saksi Kerajaan Allah kapanpun dan dimanapun, kedua menjadi perpanjangan kasih Allah kepada siapapun tanpa memandang status orang tersebut dan terakhir adalah memeriksa hati kita apakah kita hidup untuk misi Allah atau untuk mengejar keinginan diri sendiri.  

Ayat hafalan: Galatia 2:19-20, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” 

Ikuti Kami