Amsal 3:9-10
"Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya."
Setiap kali laporan keuangan usaha Anda menunjukkan angka hijau, ada dua pilihan yang diam-diam bertarung dalam hati. Yang satu berbisik, "Ini hasil kerja kerasku, aku berhak menikmatinya sepenuhnya." Yang lain mengingatkan, "Siapa sebenarnya yang memberi kemampuan, relasi, dan kesempatan sampai usaha ini bisa untung?"
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan arah hati kita tertuju — entah itu kepada kepentingan kita atau kepada Tuhan yang adalah sumber dari semua hal dalam hidup kita.
Kita bisa membaca dan merenungkan ayat pagi ini dari Amsal 3:9-10 yang berkata, "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu..."
Kata "hasil pertama" di sini penting untuk diperhatikan. Dalam budaya pertanian Israel kuno, ini merujuk pada buah sulung atau bagian pertama dan terbaik dari panen, yang dipersembahkan sebelum petani tahu pasti apakah sisa panennya akan mencukupi kebutuhan keluarganya. Memberi yang pertama adalah tindakan iman, bukan sisa kalkulasi setelah semua kebutuhan terpenuhi.
Prinsip ini tidak berhenti di zaman pertanian. Bagi kita yang menjalankan usaha atau bisnis hari ini, "hasil pertama" berarti keuntungan yang kita peroleh bukan semata milik kita untuk dihabiskan sendiri, melainkan alat yang Tuhan percayakan untuk memperluas Kerajaan-Nya.
Raja Salomo, penulis Amsal ini, adalah orang yang paling memahami kekayaan dan kelimpahan. Namun ia menuliskan kebenaran ini bukan sebagai teori melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan lewat cara kita mengelola harta. Di ayat 10, ia menyampaikan janji yang akan kita terima ketika kita bisa menjadi seorang pengelola yang baik yaitu "lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah."
Ini bukan janji kekayaan instan bagi yang memberi, melainkan gambaran bagaimana Tuhan bekerja sesuai dengan sistem kerajaan-Nya. Seperti ditegaskan Paulus bahwa "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9: 6). Menariknya, Tuhan tahu apakah kita memberi dengan sukacita atau justru memberi dari sisa yang kita punya.
Saudara, apapun bentuk berkat yang Tuhan percayakan kepada kita hari ini — entah itu keuntungan usaha, bonus tahunan yang tidak terduga, kenaikan gaji, atau pendapatan dari sumber lainnya, kita patut mengucap syukur atasnya yaitu dengan menaburnya kembali untuk membangun rumah Tuhan atau menopang sesama orang percaya yang berkekurangan. Ini semacam benih yang kita tanam dan akan kita tuai seturut dengan sistem kerajaan Allah.
Pertanyaan Refleksi:
Waktu usaha saya untung, atau Tuhan memberi berkat tak terduga seperti bonus atau pendapatan, apa hal pertama yang saya lakukan?
Apakah saya selalu mengucap syukur atas berkat ini dan terdorong untuk menabur sebagian darinya untuk rumah Tuhan maupun untuk berbagi dengan sesama di sekitar saya?
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!