Pembawa Damai Bagi Semua Orang
Kalangan Sendiri

Pembawa Damai Bagi Semua Orang

Claudia Jessica Official Writer
      1041

Roma 12:18

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah damai dengan semua orang.”

“Kalau dipukul, balas pukul lagi!”

Itulah salah satu hukum tidak tertulis yang sering dunia ajarkan kepada kita.

Kalau disakiti, balas.

Kalau direndahkan, jangan diam.

Kalau diserang, serang balik.

Prinsip ini banyak kita temui di berbagai tempat, mulai dari media sosial, lingkungan kerja, bahkan dalam keluarga.

Kata-kata kasar dibalas dengan kata-kata yang lebih menyakitkan. Sakit hati dibalas dengan sikap dingin atau emosi yang meledak-ledak. Tanpa sadar, kita sudah ikut terjebak dalam lingkaran balas dendam yang terus berputar dan tidak ada habisnya.

Namun, firman Tuhan mengajak kita melihat kondisi ini dengan cara yang berbeda. Dalam Roma 12:18, Rasul Paulus menulis, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah damai dengan semua orang.”

Paulus tahu hidup tidak selalu berjalan dengan mulus tanpa konflik. Akan selalu ada yang melukai, mengecewakan, bahkan memperlakukan kita secara tidak adil. Tetapi Paulus menekankan satu hal penting, bagian kita sebagai orang percaya adalah memilih untuk mengusahakan damai.

Kekerasan tidak dimulai dari hal besar, melainkan berawal dari hati yang kepahitan dan tidak mau mengampuni. Ketika kita menyimpan luka hati dalam waktu yang lama, tumbuh keinginan untuk balas dendam.

Maka dari itu, Tuhan ingin kita mengalami pertobatan. Bukan hanya perilaku kita yang mengalami pemulihan, tetapi juga hati kita dari keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.

Di bulan Maret ini, marilah kita menjalani masa Pra-Paskah dengan mengingat kembali perjalanan menuju salib. Yesus menghadapi kebencian dan kekerasan dengan cara yang sangat berbeda dari dunia. Ia tidak membalas mereka yang menyakiti-Nya, Yesus justru berdoa agar Bapa di Surga mengampuni mereka semua.

Sebagai gereja, tubuh Kristus di dunia—kita dipanggil menjadi saksi pengampunan itu. Di tengah dunia yang terbiasa membalas, kehadiran orang percaya seharusnya membawa cerita yang berbeda, cerita tentang kasih, rekonsiliasi, dan damai.

 

Momen Refleksi:

Apakah ada luka dalam hidupmu yang masih membuatmu ingin membalas dendam?

Action:
Mintalah Tuhan menolongmu melepaskan kemarahan yang selama ini kamu simpan dalam hati. Ambil satu langkah kecil menuju damai dengan mengampuni, mendoakan orang yang melukai, atau memilih respon yang lebih penuh kasih.

Ikuti Kami