Siap Menanggung Penderitaan
Kalangan Sendiri

Siap Menanggung Penderitaan

Lori Official Writer
      225

Lukas 22:42 

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." 

 

Sebagai manusia, naluriahnya setiap orang pasti mengharapkan kehidupan yang bebas dari penderitaan dan kesengsaraan. Apalagi sebagai orang-orang percaya sejak lahir, kita sering mendengar khutbah atau pesan inspiratif bagaimana Tuhan menjamin kita dengan berbagai kelimpahan. Seolah-olah dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mengalami kesulitan hidup.  

Tapi di minggu ini, saya mengajak Anda untuk mengambil waktu refleksi pribadi menjelang perayaan Paskah ini tentang hal paling esensi dari menjadi orang-orang yang hidup di dalam Kristus.   

Mari ambil waktu untuk memaknai bagaimana seorang pribadi Yesus, yang adalah Tuhan, juga bergumul dalam penderitaan di detik-detik menuju salib. Kita baca di dalam Lukas 22, bagaimana proses pergumulan Yesus menjelang Ia disalibkan. Setelah malam Perjamuan Kudus, Ia mengajak beberapa murid pergi ke Taman Getsemani. Di satu sudut taman yang gelap dan sunyi, Ia menyendiri untuk berdoa, tetapi itu bukan momen doa yang seperti biasanya Ia lakukan. Ia lebih kepada bagaimana Yesus mengadu kepada Bapa atas rasa takutnya menghadapi penderitaan.  

Bayangkan, Yesus yang adalah Tuhan, justru memilih bernegosiasi dengan Bapa. Seperti disampaikan dalam Lukas 22:42, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Namun Yesus tetap tunduk pada kehendak Allah bahwa ia tahu penderitaan-Nya adalah harga mahal untuk keselamatan umat manusia. 

Pertanyaannya adalah: Apakah Anda sudah benar-benar menerima keselamatan di dalam Kristus lengkap dengan harga yang harus kita bayar yaitu "memikul salib-Nya"? Atau kita hanya menuntut hal-hal baik akan terjadi setelah kita mengikut Dia?  

Mari renungkan pesan Yesus ini secara pribadi bahwa, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." (Lukas 9: 23). Memikul salib artinya mematikan ambisi duniawi, memprioritaskan kehendak Tuhan, dan siap menanggung kesulitan, penderitaan dan risiko karena iman. 

Hari ini, saya mengajak Anda untuk memperbaharui komitmen iman Anda dihadapan Tuhan. Undang Roh Kudus untuk mengisi hati Anda dengan kerelaan untuk menanggung penderitaan karena Kristus.  

 

Refleksi Pribadi: 

Apakah Anda memilih menjadi pengikut Kristus karena jaminan kelimpahan dan kehidupan baik yang Anda dengar? Atau Anda dengan sadar memahami risiko yang akan Anda hadapi saat mengikut Kristus?    

Ikuti Kami