Terus Berlari, Pantang Menyerah

Renungan Harian / 23 August 2026

Terus Berlari, Pantang Menyerah
Aprita L Ekanaru Official Writer
      186

"Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlari dengan tekun di dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..."

Ibrani 12:1-2

 

Pernahkah kamu merasa sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi perjalanan hidup justru terasa semakin berat?

Saudara sudah berdoa, mencoba bertahan, melakukan yang terbaik, tetapi keadaan belum juga berubah. Di titik seperti itu, keinginan untuk berhenti bisa muncul. Bukan karena kamu tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena kamu sudah terlalu lelah untuk terus berlari.

Ibrani 12 menggambarkan kehidupan iman seperti sebuah perlombaan. Menariknya, kita tidak diminta untuk menjadi yang paling cepat.  Firman Tuhan di ayat Ibrani 12:1 justru berkata agar kita berlari dengan tekun. Artinya, yang Tuhan cari bukan hanya semangat besar di awal, tetapi kesetiaan untuk terus melangkah bahkan ketika perjalanan terasa panjang.

Namun ada satu hal penting. Seorang pelari tidak akan mampu berlari dengan baik jika membawa terlalu banyak beban. Karena itu, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk menanggalkan segala sesuatu yang merintangi.

Mungkin beban itu adalah kegagalan masa lalu yang masih kamu sesali. Bisa juga berupa kekhawatiran tentang masa depan, rasa kecewa kepada seseorang, ketakutan akan kegagalan, atau bahkan kebiasaan yang diam-diam menjauhkanmu dari Tuhan.

Saudaraku, cobalah tanyakan kepada dirimu hari ini, apa yang sedang saya bawa sehingga langkah saya terasa semakin berat?

Ada kalanya kita sibuk meminta Tuhan membuat jalan menjadi lebih mudah, padahal Tuhan sedang mengajak kita melepaskan sesuatu yang selama ini tidak seharusnya kita bawa. Ketika mata kita hanya tertuju pada masalah, kita mudah kehilangan harapan. Ketika kita terus membandingkan perjalanan kita dengan orang lain, kita mudah merasa tertinggal. Namun ketika pandangan kembali kepada Kristus, kita diingatkan bahwa kita tidak menjalani perlombaan ini sendirian.

Hari ini, mari kita lepaskan beban yang menghambat. Jangan biarkan kegagalan kemarin menentukan langkah hari ini. Tetaplah berlari dengan tekun, meskipun perlahan. Sebab garis akhir perjalanan iman bukan tentang seberapa cepat kamu sampai, tetapi tentang tetap setia sampai selesai dengan mata yang terus tertuju kepada Kristus.

 

Refleksi Pribadi

1. Apa beban, ketakutan, atau kekecewaan yang selama ini membuat langkah imanmu terasa semakin berat?

2. Di tengah tantangan yang sedang kamu hadapi, apakah pandanganmu masih tertuju kepada Yesus, atau justru lebih banyak tertuju pada masalah dan keadaan di sekitarmu?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?