Berjejak di Atas Rasa Sakit

Renungan Harian / 2 June 2026

Berjejak di Atas Rasa Sakit
Lori Official Writer
      225

Habakuk 3: 19 

ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

 

Ada banyak orang yang terjebak dalam rasa sakit yang merasa alami dalam hidup - entah itu dari penolakan, ketidakadilan, pengkhianatan, beban kehidupan dan sebagainya. Lalu membiarkan rasa sakit itu terus tumbuh sampai berubah menjadi kemarahan, kepahitan dan rasa takut.

Kita perlu menyadari bahwa tujuan musuh adalah agar kita merasa kasihan pada diri sendiri dan larut dalam rasa sakit kita sendiri. Tetapi hari ini kita mau melihat bagaimana seorang Habakuk bisa mengubah cara kita memandang rasa sakit dari sudut padangan yang berbeda.

Saat Habakuk berkata, "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3: 19), sebenarnya dia sedang berada di tengah situasi yang sulit. Saat itu bangsanya berada di ambang kehancuran Nasional yang massif.  

Ia menggambarkan bagaimana kaki rusa berjejak dengan tegak bukan justru di jalanan yang mulus. Sebaliknya, kakinya semakin kuat di tengah medan berbatu, di lereng yang curam dan di tanah berlumpur yang begitu sulit. Setiap batu dan jalan yang terjal, itulah medan juang yang melatih otot-otot kakinya menjadi kuat. Habakuk menyampaikan kiasan ini sebagai gambaran dari bagaimana dia dan bangsanya memandang keruntuhan yang akan datang sebagai proses pembentukan iman.

"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan." (Roma 5:3–4)

Firman Tuhan mengajarkan hal yang sama: penderitaan, jika dihadapi dengan iman, bukan meruntuhkan kita — melainkan membangun karakter dan pengharapan yang tidak mengecewakan.

Selama kita bergantung kepada keadaan yang baik-baik saja, kita akan menjadi orang-orang yang rapuh dan mudah diguncangkan. Tetapi waktu kita mengizinkan rasa sakit memproses dan di sisi lain kita tetap menyerahkannya kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan kita untuk melewatinya, maka hidup kita akan terus maju.

Saudara, Tuhan tidak berkata, "Tunggulah sampai hatimu sembuh, baru melangkah maju." Tetapi melalui Mazmur 37: 3 kita diperintahkan untuk bergerak: "Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia..." 

Kita menjadi orang-orang yang menang bukan ketika rasa sakit itu hilang, tetapi ketika rasa sakit itu tidak lagi menentukan respons kita. Inilah yang dimaksud Habakuk: kaki rusa bukan kaki yang tidak pernah menginjak batu — melainkan kaki yang justru dikuatkan oleh batu-batu itu.

 

Momen Refleksi:

1. Apakah ada rasa sakit yang mengubah cara pandangmu tentang keadaan dan Tuhan?

2. Apakah rasa sakit itu membuatmu menjadi semakin pahit? 

3. Langkah apa yang bisa kamu lakukan untuk menghadapinya sesuai dengan pesan renungan hari ini.

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?