Banyak orang percaya bahwa hubungan yang sehat harus selalu dilandasi prinsip give and take. Artinya, setiap orang perlu sama-sama memberi perhatian, waktu, tenaga, dan kasih, lalu menerima hal yang setara dari pihak lainnya. Sekilas, konsep ini terdengar masuk akal. Namun, apakah hubungan yang langgeng benar-benar harus selalu berjalan dengan pembagian yang seimbang?
Kenyataannya, hubungan tidak pernah berjalan seperti hitungan matematika. Ada masa ketika kita lebih banyak memberi, sementara orang lain sedang tidak mampu melakukan hal yang sama. Misalnya ketika pasangan sedang sakit, sahabat kehilangan pekerjaan, atau anggota keluarga tengah menghadapi tekanan berat. Pada masa seperti itu, ketidakseimbangan sementara bukan berarti hubungan tersebut tidak sehat.
1. Hubungan Sehat Tidak Selalu Berarti 50:50
Give and take bukan berarti setiap pesan harus segera dibalas, setiap hadiah harus diganti dengan harga yang sama, atau setiap pengorbanan harus langsung mendapatkan balasan. Hubungan pacaran yang sehat tidak dapat diukur hanya dari siapa yang lebih sering membayar makanan, mengajak pergi, atau menghubungi lebih dahulu.
BACA JUGA: Split Bill Saat Pacaran Itu Wajar atau Justru Malah Jadi Perhitungan?
Keseimbangan terlihat dari kemauan kedua pihak untuk sama-sama menjaga hubungan. Mungkin porsinya tidak selalu sama setiap hari, tetapi keduanya tetap merasa dihargai, didengarkan, dan diperhatikan.
Alkitab menggambarkan kasih bukan sebagai transaksi yang menuntut balasan, melainkan sebagai sikap yang sabar, murah hati, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
1 Korintus 13:4-5 berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
Artinya, kasih tidak seharusnya membuat seseorang terus menghitung apa yang sudah diberikan. Namun, ayat ini juga tidak dapat dijadikan alasan bagi satu pihak untuk bersikap egois dan terus memanfaatkan pasangannya.
2. Kasih yang Sehat Tetap Membutuhkan Timbal Balik
Hubungan membutuhkan usaha dari dua orang. Ketika kamu selalu menjadi pihak yang menghubungi lebih dahulu, membuat rencana, meminta maaf, menenangkan pasangan, dan menyelesaikan setiap konflik, hubungan tersebut dapat berubah menjadi perjuangan satu arah.
Prinsip ini bisa kita lihat dalam Filipi 2:4 yang berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kasih tidak hanya berbicara tentang apa yang kita terima. Namun, setiap orang juga dipanggil untuk memikirkan kebutuhan, perasaan, dan kepentingan pasangannya.
Pasangan yang sehat tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan dari hubungan ini?” Ia juga belajar bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan agar hubungan ini membuat kami berdua bertumbuh?”
3. Terlalu Banyak Memberi Belum Tentu Sehat
Seseorang dapat terus memberi karena benar-benar mengasihi pasangannya. Namun, terkadang ada alasan lain yang tidak disadari.
Kamu mungkin takut ditinggalkan jika berhenti berusaha. Kamu merasa harus selalu mengalah agar tidak terjadi pertengkaran. Bisa juga kamu percaya bahwa jika memberikan kasih lebih banyak, pasanganmu akhirnya akan berubah.
BACA JUGA: Berkorban Jadi Rahasia Nana Mirdad dan Andrew White Lewati Masa Sulit Pernikahan
Akibatnya, kamu mulai mengabaikan kebutuhan pribadi, memaklumi sikap yang menyakitkan, dan merasa bersalah ketika ingin berkata tidak. Padahal, Tuhan tidak meminta kita kehilangan jati diri demi mempertahankan sebuah hubungan.
Amsal 4:23 mengingatkan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Menjaga hati bukan berarti menjadi egois atau menutup diri. Menjaga hati berarti menyadari bahwa kesehatan emosional dan rohani juga perlu diperhatikan. Hubungan yang sehat tidak seharusnya membuatmu terus merasa tidak berharga, takut, tertekan, atau kehilangan damai sejahtera.
4. Kejujuran Lebih Baik daripada Memendam Kekecewaan
Jika merasa hubunganmu dengan pasangan tidak seimbang, jangan terus memendam perasaan sambil berharap pasangan dapat membaca pikiranmu. Cobalah membicarakannya secara jujur dalam keadaan tenang.
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!