Menemukan Orang yang Tepat (Safe Space)
Kalangan Sendiri

Menemukan Orang yang Tepat (Safe Space)

Claudia Jessica Official Writer
      27

Amsal 17:17

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Tidak semua orang bisa menjadi tempat kita bercerita. Tidak semua telinga aman untuk mendengar pergumulan kita. Karena itu, banyak dari kita memilih diam. Kita belajar terlihat baik-baik saja. Kita terbiasa menjawab, “Aku kuat kok, gapapa” padahal di dalam hati sedang lelah.

Masalahnya, saat kita terus berpura-pura kuat, kita juga menutup pintu bagi Tuhan yang sudah menyediakan dukungan untuk menolong kita.

Amsal 17:17 menggambarkan sahabat sejati sebagai seseorang yang tetap mengasihi setiap waktu dan hadir dalam kesukaran. Bukan hanya teman yang hadir saat semuanya menyenangkan, tetapi juga orang yang bertahan ketika hidup terasa berat.

Tuhan sering kali menyalurkan kekuatan-Nya melalui orang-orang seperti ini. Tapi, kita tidak akan pernah merasakannya kalau kita tidak berani membuka diri.

Menunjukkan bahwa kamu lemah, bukan tanda bahwa kamu tidak beriman. Kelemahan bisa dikategorikan sehat apabila kamu punya keberanian untuk mengakuinya dan berkata, “Aku lagi ga baik-baik aja”.

Ketika kita menunjukkan kelemahan, inilah waktu yang tepat bagi iman kita untuk bekerja. Dari kelemahan inilah kuasa Tuhan bekerja melalui hidup kita, dan terkadang Tuhan menyediakan pertolongan-Nya melalui orang lain. Mereka mungkin orang yang kita kenal dengan sangat baik, orang yang hanya kita sapa sesekali, atau bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Banyak orang tidak mendapatkan dukungan bukan karena mereka tidak punya komunitas, tetapi karena mereka tidak pernah mengizinkan komunitas itu masuk ke kehidupannya. Kita mungkin aktif di gereja, punya banyak kenalan, tetapi tetap merasa sendirian karena tidak ada satu pun yang benar-benar tahu isi hati kita.

Untuk menemukan safe space, kita perlu berdoa dan meminta Tuhan menunjukkan siapa orang yang tepat. Tidak semua orang perlu tahu cerita kita, tetapi ada satu atau dua orang yang bisa dipercaya.

Orang yang tidak menghakimi, tidak menyebarkan atau mengubah cerita, dan tidak meremehkan pergumulan kita. Orang yang mau mendoakan, bukan sekadar penasaran dengan apa yang terjadi.

 

Momen Refleksi:

1. Apakah kamu masih berusaha terlihat kuat di depan semua orang?

2. Sudahkah kamu mengizinkan seseorang berjalan lebih dekat dalam hidupmu?

Ambil satu langkah kecil minggu ini. Pilih satu orang yang kamu percaya. Bagikan satu pergumulan yang selama ini kamu simpan. Bangun kebiasaan untuk saling mendoakan dan saling meneguhkan. Karena pertolongan Tuhan lahir saat kita berhenti berpura-pura kuat dan mulai jujur di hadapan Tuhan dan sesama.

Ikuti Kami