Buah Ketaatan Sekalipun Terlalu Berisiko
Kalangan Sendiri

Buah Ketaatan Sekalipun Terlalu Berisiko

Claudia Jessica Official Writer
      93

Ayat Renungan: Ibrani 11:23"Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan tiga bulan lamanya oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja."

Ketika berbicara tentang ketaatan, biasanya pikiran kita langsung menggambarkannya sebagai peraturan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilanggar. Ketaatan biasanya juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kita serta komitmen yang harus dilakukan.

Tapi ketaatan yang dimaksudkan Tuhan dalam kehidupan rohani bukanlah taat pada peraturan seperti itu. Ketaatan bukan tentang ini mudah dilakukan, tetapi apa yang benar di mata Tuhan.

Kita bisa melihat gambaran yang luar biasa soal ketaatan dari Yokhebed, ibu Musa. Raja Mesir memberikan perintah dengan sangat jelas bahwa bayi laki-laki dari bangsa Israel harus dibunuh dan membuat semua orang pasti hidup dalam ketakutan.

Namun, Yokhebed memilih untuk taat pada suara hati yang Tuhan tanamkan dalam dirinya. Ia memutuskan untuk menyembunyikan Musa selama tiga bulan. Ketika Ia merasa sudah tidak mungkin lagi untuk menyembunyikan Musa, ia percaya pada arahan ilahi untuk menaruh bayinya di dalam keranjang di sungai Nil.

Bayangkan beratnya keputusan itu. Ia bukan hanya mengambil risiko biasa, Yokhebed menempatkan hidupnya sendiri dalam bahaya. Kalau rencana itu gagal, hukuman maut menantinya. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak ada jaminan bagaimana akhirnya. Ia tidak punya peta masa depan, hanya iman yang membisiki langkahnya.

Inilah salah satu pelajaran terbesar dari ayat Mazmur tadi. Firman Tuhan adalah pelita, bukan lampu sorot. Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh jalan sekaligus. Dia memberi cukup terang untuk langkah yang sedang kita jalani saat ini. Kita mungkin tidak melihat semua yang akan terjadi, tetapi satu langkah ketaatan hari ini membuka ruang bagi rencana Tuhan yang lebih besar.

Ketaatan Yokhebed mungkin terlihat sederhana. Tidak ada sorak sorai, tidak ada drama besar yang langsung terlihat. Tapi dari keputusan itu, Allah memulai sebuah kisah pembebasan bagi seluruh bangsa Israel.

Sama seperti Yokhebed, kita juga seringkali diperhadapkan dengan pilihan sederhana, tapi apakah kita mau setia? Bisakah kita memilih setia saat tidak ada yang melihat, memilih jujur sekalipun semua orang bungkam, hingga memilih untuk mengasihi ketika dunia menawarkan balas dendam?

 

Momen refleksi:

1. Hari ini, langkah ketaatan apa yang Tuhan sedang minta darimu?

2. Apakah ada hal kecil yang selama ini kamu tunda karena terasa tidak nyaman atau berisiko?

Tuhan mungkin tidak menunjukan seluruh rencananya, tetapi Ia memberikan pelita yang cukup terang untuk kita melangkah dalam ketaatan. Dari ketaatan kecil inilah buah iman tumbuh, dan hidup kita menjadi bagian dari cerita besar karya Tuhan.

Ikuti Kami