Tuhan Adalah Penyediaku
Kalangan Sendiri

Tuhan Adalah Penyediaku

Lori Official Writer
      60

Ayat Renungan: Mazmur 37: 25–26“Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.”

 

Kitab Mazmur 37 lahir dari perenungan panjang Daud tentang perjalanan hidupnya. Ia menulis bukan dari ruang teori, tetapi dari pengalaman nyata—melewati masa muda yang penuh pergumulan, masa dewasa yang sarat tanggung jawab, hingga usia tua yang dipenuhi hikmat. Daud melihat dengan jelas perbedaan antara hidup yang dibangun di atas kebenaran dan hidup yang mengejar keuntungan sesaat. Dunia mungkin tampak memberi ruang bagi orang fasik untuk berkembang, tetapi Daud menyadari bahwa semua itu seperti rumput yang segera layu. Sebaliknya, hidup yang berkenan kepada Tuhan memiliki fondasi yang kokoh, sekalipun harus melalui musim gelap dan tersandung.

Dengan kejujuran yang dalam, Daud tidak menutup fakta bahwa orang benar pun bisa jatuh. Hidup bersama Tuhan bukan berarti bebas dari kegagalan, tekanan, atau ketidakpastian. Namun inilah kebenaran yang menjadi pegangan Daud: Tuhan meneguhkan langkah orang yang berkenan kepada-Nya. Sekalipun tersandung, ia tidak dibiarkan jatuh tergeletak, sebab tangan Tuhan sendiri menopangnya. Pemeliharaan Tuhan bukan jaminan hidup tanpa badai, melainkan kepastian bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian di tengah badai itu.

Kesaksian Daud mencapai puncaknya dalam satu kalimat sederhana namun penuh kuasa: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua…” Ini bukan sekadar refleksi tentang usia, melainkan sebuah pengakuan iman. Setelah menempuh begitu banyak musim hidup—kemenangan dan kegagalan, kelimpahan dan kekurangan—Daud menyimpulkan satu hal yang tidak pernah berubah: Tuhan tidak pernah meninggalkan orang benar. Penyediaan Tuhan sering kali datang dengan cara yang tak terduga—melalui orang lain, pintu yang terbuka di saat genting, atau damai sejahtera yang tetap tinggal walau keadaan tidak ideal. Bahkan lebih dari itu, Daud melihat bahwa pemeliharaan Tuhan tidak berhenti pada dirinya, tetapi mengalir sampai kepada anak cucu, menjadikan hidupnya saluran berkat bagi generasi berikutnya.

Kita masih punya 340-an hari di depan untuk kita jalani, pertanyaannya bukan hanya sejauh apa kita akan melangkah, tetapi kesaksian apa yang akan kita bawa pulang di penghujung tahun nanti? Akankah kita dapat berkata, seperti Daud, bahwa di tengah segala dinamika hidup, Tuhan tetap setia memelihara, mencukupi, dan menuntun langkah kita?

Saudara, saya berdoa supaya sepanjang tahun ini hidup kita tidak hanya dipenuhi dengan aktivitas dan pencapaian, tetapi menjadi kesaksian yang hidup—bahwa Tuhan sungguh adalah Penyedia kita. Kiranya ketika kita menoleh ke belakang nanti, kita dapat berkata dengan penuh keyakinan: “Aku telah melihat kesetiaan Tuhan, dan hidupku menjadi bukti bahwa Dia tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya.”

Ikuti Kami