Awali Tahun Dengan Cara Berbeda untuk Hasil yang Berbeda
Kalangan Sendiri

Awali Tahun Dengan Cara Berbeda untuk Hasil yang Berbeda

Lori Official Writer
      68

Ayat Renungan: Ezra 8: 21 - "Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami."

 

Jika Anda adalah orang yang suka mengikuti berita secara Nasional maupun Global, mungkin ada sedikit rasa kuatir yang muncul di dalam hati Anda tentang apa yang akan terjadi ke depan, khususnya di tahun 2026 ini. Kondisi seperti gonjang ganjing ekonomi, berita peringatan akan ancaman bencana di mana-mana, krisis moral yang mengancam generasi muda, sampai kepada perkembangan Artificial Intelligence yang diramalkan akan menguasai hampir seluruh bidang kehidupan. Mungkin Anda mulai berpikir dengan ragu: Bagaimana nasibku, nasib anak-anakku, nasib pekerjaanku, nasib dunia ini? 

Di satu sisi kita patut mengucap syukur atas kemurahan Tuhan yang masih terus menuntun kita sampai di tahun 2026. Tetapi bersamaan dengan itu, kita harus siap untuk tantangan dan ketidakpastian yang akan terjadi. Keadaan mungkin tidak akan sama, atau bahkan Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami latihan iman yang lebih ketat. Karena itu, kita perlu memulai awal tahun ini berbeda dengan cara yang berbeda dari tahun sebelumnya. Kita hanya akan mengulang apa yang terjadi di tahun 2025, jika kita masih memulai tahun ini dengan cara yang sama. 

Di awal bulan ini, mari mengambil waktu untuk mencari wajah Tuhan dengan doa dan puasa. Kenapa? Karena Tuhan berkata, jika kita mencari Dia, maka Dia akan memberikan perlindungan dan keselamatan (Ezra 8: 22).

Doa dan puasa ini bisa kita lakukan seperti yang disampaikan dalam Ezra 8: 21, "Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami."

Doa dan puasa bukanlah sekadar rutinitas rohani atau tindakan menahan diri dari makanan. Puasa adalah sikap hati yang merendahkan diri di hadapan Tuhan, sebuah pengakuan bahwa kekuatan dan hikmat kita memiliki batas. Melalui puasa, kita secara sadar memberi ruang bagi Tuhan untuk kembali memimpin hidup kita.

Doa yang dibarengi dengan puasa akan menjadi sangat dahsyat kuasanya. Karena puasa memberi bobot rohani pada doa — menjadikannya lebih fokus, lebih peka, dan lebih selaras dengan kehendak Tuhan. Kita belajar untuk lebih mendengar daripada berbicara, lebih berserah daripada mengatur.

Melalui doa dan puasa, Tuhan memberikan kejelasan arah. Kita datang bukan hanya membawa pergumulan pribadi, tetapi juga kehidupan keluarga, anak-anak, pekerjaan, dan bahkan diberikan kemampuan untuk mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi di depan. Tuhan yang mendengar doa umat-Nya di masa lalu adalah Tuhan yang sama hari ini—setia menuntun setiap orang yang sungguh mencari-Nya.

Mengawali tahun dengan doa dan puasa berarti kita memilih untuk tidak melangkah dengan ketakutan karena dihantui ketidakpastian. Sebaliknya, melalui momen doa dan puasa, iman kita menjadi lebih kuat, pengharapan kita terus bertumbuh dan hikmat kita terus ditambahkan untuk siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di depan.

Saudara, mungkin sebagian dari Anda sudah menjadikan doa dan puasa sebagai hal yang wajib di dalam memulai tahun. Saya mendorong setiap kita untuk memulai cara berbeda ini, jika Anda masih belum pernah memulainya. Mari kita serahkan awal tahun ini sebagai persembahan sulung kepada Tuhan dan menjadi simbol dari tindakan iman kita untuk mempercayai bahwa jika kita bersama Tuhan maka Dia sendiri yang akan menjamin masa depan kita, hari-hari kita, keluarga kita, anak-anak kita, pekerjaan kita dan semua aspek hidup kita di tahun ini dan tahun-tahun ke depan. 

Mari jadikan doa dan puasa menjadi fondasi rohani kita, agar sepanjang tahun ini kita hidup dalam tuntunan dan penyertaan Tuhan.

Ikuti Kami