Melawan Kemalasan dan Merawat Ketekunan
Kalangan Sendiri

Melawan Kemalasan dan Merawat Ketekunan

Lori Official Writer
      415

 Amsal 10:4 

"Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." 

 

Mari bayangkan usaha yang Anda lakukan hari ini mulai menunjukkan hasil dalam tiga bulan ke depan. Peningkatan itu terus terjadi pada tiga bulan berikutnya, hingga di penghujung tahun Anda mendapati pencapaian yang bahkan melampaui apa yang pernah Anda pikirkan. 

Tidak ada pencapaian tanpa usaha dan ketekunan. Saya percaya itu! Walaupun masih banyak di antara kita yang mempercayai faktor keberuntungan, hukum sebab akibat tetap bekerja dalam hidup kita. Coba perhatikan para influencer atau penjual online. Mereka bisa melipatgandakan penghasilan karena aktif memperkenalkan produknya dan terus mencari berbagai cara agar usahanya meningkat. Semua itu tidak terjadi secara instan. 

Kebenaran inilah yang kita pelajari melalui Amsal 10:4 yang berkata, "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." Kita mungkin berpikir bahwa “kemiskinan” di sini hanya berbicara tentang materi. Namun lebih dari itu, ayat ini juga menyinggung karakter dan kebiasaan kita. 

Tangan yang lamban lahir dari karakter pemalas. Ketika kita mengikuti karakter ini, kita tidak akan menjadi pribadi yang getol atau giat berusaha. Akibatnya, kondisi kita tetap stagnan, bahkan bisa semakin terpuruk. 

Lalu bagaimana supaya kita mengalami peningkatan dan kemajuan? Yakobus 1: 4 menekankan bahwa ada ketekunan yang perlu kita usahakan dalam setiap proses menuju hasil. Tekun berarti rajin mengerjakan sesuatu yang sedang kita perjuangkan sampai akhirnya kita memperoleh hasilnya. 

Saudara, di manakah posisi Anda saat ini? Pertanyaan ini bisa menjadi awal yang baik untuk menjaga fokus ke depan. Jangan biarkan kemalasan atau keadaan membuat Anda berhenti mengejar apa yang Anda harapkan tahun ini. 

Amsal 6:10-11 mengingatkan, "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi... maka datanglah kemiskinan seperti penyerbu." Saya percaya tidak seorang pun ingin hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya, kita ingin mengaktualisasikan diri menjadi pribadi yang berhasil, dapat diandalkan, dan memiliki potensi yang maksimal. 

Mari renungkan kebenaran Firman Tuhan pagi ini secara pribadi. 

 

Refleksi Pribadi: 

1. Apakah saya termasuk orang yang malas atau rajin? 

2. Sudah berapa persen pencapaian target tahun ini yang berhasil saya capai? 

3. Apa yang perlu saya tingkatkan dan apa yang perlu saya tinggalkan? 

Ikuti Kami