Merawat Bukan Menggerus

Renungan Harian / 21 September 2026

Merawat Bukan Menggerus
Lori Official Writer
      101

Kejadian 2:15

"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu."

 

Hari-hari ini, berita tentang bencana alam datang silih berganti — banjir bandang akibat hutan gundul, tanah longsor di lereng yang dulunya hijau, kekeringan panjang di lahan yang dulu subur, udara yang semakin panas dan tak menentu. Semua ini bukan kebetulan. Ketika hutan ditebang tanpa reboisasi, sungai dicemari limbah, dan tanah dikuras demi keuntungan sesaat, alam tidak lagi menjadi sahabat yang memberi kehidupan—ia berbalik menjadi sumber bencana yang merenggut kehidupan itu sendiri. Keserakahan yang menggerus alam pada akhirnya menagih kembali dengan harga yang jauh lebih mahal.

Namun sebaliknya, ketika alam dirawat, dijaga, dan diberdayakan dengan bijaksana, hasilnya jauh berbeda. Tanah yang diolah dengan baik menghasilkan pangan yang cukup (Amsal 12:11). Hutan yang dijaga menjadi sumber air yang jernih. Laut yang tidak dieksploitasi berlebihan tetap menghasilkan tangkapan yang melimpah. Lebih dari sekadar mencukupi kebutuhan pokok, alam yang dikelola dengan setia bahkan bisa menjadi sumber mata pencaharian yang mendatangkan kekayaan dan kesejahteraan bagi generasi demi generasi. Alam bukan musuh yang harus ditaklukkan habis-habisan, melainkan harta yang harus dijaga agar terus memberi.

Inilah gambaran yang Tuhan tunjukkan sejak mula di Taman Eden. Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di sebuah taman yang sudah penuh dengan segala yang mereka butuhkan — pepohonan yang menghasilkan udara segar, tanaman untuk sumber pangan, sungai yang mengalir jernih, emas dan permata di tanahnya (Kejadian 2:9-12). Tuhan hanya memberi mereka mandat untuk mengusahakan dan memelihara - bukan menguras habis, bukan pula membiarkan begitu saja tetapi merawat dengan tekun apa yang sudah Tuhan sediakan dengan berlimpah.

Coba bayangkan, jika Adam dan Hawa tidak jatuh ke dalam dosa dan terus setia menjalankan peran mereka sebagai pengelola taman Eden — hidup mereka tidak akan pernah mengenal susah payah mencari nafkah, tidak ada tanah yang menghasilkan semak duri, tidak ada peluh yang harus dicucurkan untuk sekadar bertahan hidup (Kejadian 3:17-19). Kesulitan hidup manusia dalam mengusahakan bumi sesungguhnya adalah konsekuensi dari dosa, bukan rancangan awal Tuhan. Rancangan awal-Nya adalah kelimpahan yang mengalir dari kesetiaan manusia merawat apa yang dipercayakan kepadanya.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk kembali kepada mandat awal itu — menjadi pengelola, bukan penggerus. Menggerus menjadi bentuk dosa karena kita mengambil lebih dari yang kita butuhkan. Di tengah dunia yang mendorong kita untuk mengeksploitasi alam demi menumpuk harta sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya, kita dipanggil untuk merawat alam dengan penuh tanggung jawab, sehingga alam memberikan timbal balik hasil yaitu kehidupan yang tidak berkekurangan. Prinsip ini bahkan sudah diajarkan Tuhan sejak zaman Perjanjian Lama, ketika Israel dilarang menebang pohon buah-buahan sembarangan sekalipun dalam keadaan perang (Ulangan 20:19).

Kita tidak dipanggil untuk rakus mengambil lebih dari yang alam bisa pulihkan, tetapi untuk bekerja dengan tekun menanam dan merawatnya sehingga alam tetap bisa memberi—hari ini, esok, dan bagi anak cucu kita kelak. 

Saudara, kesejahteraan yang kita coba raih di dalam hidup seharusnya tidak kita peroleh dengan keserakahan yang merusak, melainkan dari kesetiaan dan ketekunan di dalam merawat alam.

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Selama ini, apakah cara hidupku lebih mencerminkan sikap menggerus alam demi kepentingan sendiri, atau merawatnya sebagai mandat dari Tuhan?

2. Jika aku memposisikan diriku seperti Adam dan Hawa di taman Eden, apakah aku sudah setia mengusahakan dan memelihara apa yang Tuhan percayakan kepadaku — waktu, tanah, sumber daya, lingkungan sekitar?

3. Apa satu tindakan yang bisa aku lakukan hari ini untuk mengerjakan peran sebagai pengurus dari alam ciptaan Tuhan - misalnya menanam tanaman hijau, membuang sampah pada tempatnya, tidak memakai zat kimia berbahaya yang merusak ekosistem alam dan sebagainya?

 

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?