Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan video keributan yang bermula dari persoalan sederhana: tempat parkir. Seorang perempuan disebut berdiri di sebuah slot kosong untuk mengamankan tempat bagi mobilnya yang belum tiba. Pengendara lain yang hendak menggunakan tempat tersebut sempat berdebat dengannya sebelum akhirnya memilih pergi. Namun persoalan tidak selesai di sana. Keributan berlanjut ketika pasangan perempuan tersebut kembali bersama dengan suaminya untuk menemui pengendara itu hingga terjadi adu mulut yang kemudian viral.
Kita tentu tidak perlu buru-buru menentukan siapa yang paling benar atau paling salah hanya dari potongan video di media sosial. Namun kejadian tersebut memberi satu gambaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni masalah yang awalnya kecil dapat berubah menjadi besar ketika emosi tidak lagi terkendali.
Hari ini mungkin persoalannya tempat parkir. Besok bisa saja antrean, kemacetan, pekerjaan, pasangan, anak, atau perkataan seseorang yang menyinggung harga diri kita. Pertanyaannya, apa yang keluar dari mulut kita ketika itu terjadi? Mengapa hal itu bisa terjadi?
BACA JUGA: Apakah Ada Tempat yang Terlalu Jauh dari Jangkauan Tuhan?
Saat Marah, Kita Cenderung Bereaksi Sebelum Berpikir
Ketika emosi memuncak, dorongan pertama kita biasanya adalah membalas. Kita ingin menjelaskan bahwa kita benar, mempertahankan diri, atau membuat orang lain merasakan apa yang sedang kita rasakan.
Akibatnya, mulut bergerak lebih cepat daripada pikiran. Yakobus 1:19-20 memberikan nasihat yang sangat sederhana tetapi sulit dilakukan: “Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”
Menariknya, pola ini sering terbalik ketika kita sedang emosi. Kita cepat bicara, cepat marah, tetapi lambat mendengar. Padahal kemampuan memberi jeda sebelum merespons adalah salah satu bentuk pengendalian diri.
Cara Kita Berbicara Menunjukkan Kedewasaan
Bertambah umur tidak otomatis membuat seseorang semakin dewasa. Seseorang bisa terlihat matang ketika situasi berjalan baik. Namun karakter sebenarnya sering muncul ketika ia tersinggung, kecewa, atau merasa diperlakukan tidak adil.
Yakobus 3:2 berkata, “Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.”
Kata “sempurna” dalam bagian ini mengarah pada kematangan atau kedewasaan. Dengan kata lain, salah satu tanda kedewasaan adalah kemampuan mengendalikan perkataan.
Amsal 16:32 bahkan mengatakan, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”
Kekuatan tidak selalu terlihat dari seberapa keras seseorang melawan. Kadang kekuatan terbesar justru terlihat saat seseorang mampu menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu yang akan memperburuk keadaan.
Marah Bukan Masalahnya, Tetapi Apa yang Kita Lakukan Saat Marah
Marah adalah emosi yang manusiawi. Kita bisa marah karena dihina, diperlakukan tidak adil, atau ketika orang yang kita sayangi disakiti. Alkitab sendiri tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh marah.
Efesus 4:26 justru berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Artinya, kemarahan itu sendiri bukan selalu persoalannya. Yang perlu diperhatikan adalah respons kita.
Apakah kemarahan membuat kita menghina?
Apakah kita mulai mengeluarkan perkataan yang merendahkan?
Apakah kita mengatakan sesuatu dengan tujuan melukai?
Jika iya, masalah yang sebenarnya mungkin sudah bergeser. Kita tidak lagi berusaha menyelesaikan persoalan, tetapi sedang berusaha memenangkan pertengkaran.
BACA JUGA: Saat Mengalami Krisis Diri, Temukan Kembali Identitasmu di Dalam Kristus
Perkataan Kecil Bisa Menyalakan Konflik Besar
Dalam Yakobus 3:5-6, lidah digambarkan seperti api kecil yang mampu membakar hutan yang besar. Begitulah pertengkaran sering terjadi.
Satu kalimat memancing kalimat berikutnya. Nada suara meninggi. Lalu satu perkataan kasar dibalas dengan perkataan yang lebih kasar. Tidak lama kemudian, persoalan awal bahkan sudah tidak lagi menjadi fokus.
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!