Sumber Ketenangan di Tengah Keadaan Buruk

Renungan Harian / 29 September 2026

Sumber Ketenangan di Tengah Keadaan Buruk
Lori Official Writer
      174

Mazmur 62: 1-2

"Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah."

 

 

Dua minggu belakangan ini, pikiran saya benar-benar tersedot dengan semua isu yang sedang terjadi di Indonesia - bukan saja tentang pejabat pemerintahannya yang terkesan abai, tetapi juga tetap isu kemanusiaan, bencana alam dan ekonomi yang sedang sulit. Sampai tanpa sadar, saya menjadi susah tidur dan seperti sesak menekan dada - rasa marah, kecewa, sedih dan geram saling menumpuk.

Apakah Anda juga pernah merasakan hal serupa? Saat kondisi di sekitar kita tidak baik-baik saja, wajar jika kita mulai merespons secara emosional. Tetapi hal yang membuatnya bisa menjadi buruk adalah waktu kita terlarut begitu dalam. Di sinilah pentingnya regulasi emosi atau cara untuk mengelola, mengendalikan atau mengekspresikan emosi dengan baik.

Sekalipun begitu banyak berita atau kabar buruk yang sedang kita dengar, bagaimana kita meresponi sangat berpengaruh dengan apa yang akan kita rasakan. Dalam artian, kita boleh marah, sedih atau komplain. Tetapi bagaimana dan seperti apa kita mengekspresikannya sangat mempengaruhi ketenangan batin dan pikiran kita. 

Hari ini, mari kita belajar dari Daud yang tetap tenang di tengah tekanan besar dengan mengambil waktu sendiri untuk berseru kepada Tuhan, seperti tertulis dalam Mazmur 62. Alih-alih memendam kesesakannya, ia memilih untuk mengekspresikan perasaannya kepada Tuhan serta merenungkan kebenaran bahwa Allah adalah batu karang dan kota bentengnya. Pola inilah yang selalu ia ulangi setiap kali rasa takut atau gelisah datang—menunjukkan bahwa ketenangan sejati ia bangun secara sadar melalui kedekatannya dengan Tuhan, bukan datang begitu saja.

Demikian ia sampaikan, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku." (Mazmur 56: 5)

Saya pun mengakui, perasaan kecewa, marah, dan sedih yang saya alami adalah hal yang wajar. Namun saya sering lupa bahwa jalan terbaik untuk meresponsi keadaan adalah datang kepada Tuhan dan mengungkapkan semuanya dengan jujur. Ia adalah sumber damai sejahtera dan pribadi yang memegang kendali atas segala sesuatu di dunia ini.

Jika Anda hari-hari ini juga sedang diserang rasa takut, kecewa, marah dan sedih, jangan biarkan setiap emosi itu merasuki dan mencuri damai Anda - apalagi sampai membuat Anda tidak bisa tidur berhari-hari. Mari temukan kembali ketenangan di dalam Tuhan - seperti Daud akui Tuhan sebagai gunung batu, kota benteng dan keselamatan. Dengan begitu, kita tidak memikul keadaan sendirian, sebab kita percaya Tuhan ambil kendali atas semuanya.

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Emosi apa yang paling menguasai Anda belakangan ini, dan apa respons Anda di dalam menghadapinya?

2. Ambil beberapa menit untuk menutup mata dan merasakan keheningan bersama Tuhan. Lalu akui setiap emosi tersebut dan minta Roh Kudus menuntun Anda untuk merasakan kembali ketenangan batin yang sempat hilang. 

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?