Iman yang Dilatih di Masa Penantian

Renungan Harian / 3 June 2026

Iman yang Dilatih di Masa Penantian
Lori Official Writer
      246

Roma 4:20-21

“Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.”

 

 

Dalam sebuah video kontennya, Francis Chan pernah menyampaikan satu pernyataan yang cukup menarik tentang konsep menunggu di masa ini. 

Begini katanya, "Sebagian besar iman kita berkaitan dengan menunggu. Namun, musuh telah menjebak kita dalam budaya di mana menunggu dianggap sebagai hal yang buruk. Kamu harus menunggu koneksi internetmu. Kamu harus menunggu balasan pesanmu. 

Rasanya seperti, “Aku sudah menunggu orang ini selama satu jam.” Tapi semuanya seolah-olah menekankan bahwa menanti adalah hal yang buruk. Itulah budaya kita dan itulah yang diajarkan kepada kita. Namun, hal itu akan merusak hubunganmu dengan Tuhan."

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Sehingga dunia mendefinisikan masa menunggu sebagai gangguan dan kegagalan karena hanya akan membuang waktu yang berharga. Tetapi Francis menyampaikan satu hal yang menarik bahwa ketidaksabaran kita di dalam menunggu "hanya akan merusak hubungan kita dengan Tuhan." Karena kita akan mulai mencurigai Tuhan bahwa Dia terlambat, lupa dan tidak benar-benar menepati janji-Nya.

Jika kita kembali kepada Alkitab, kita akan menemukan banyak sekali orang beriman yang melalui masa penantian panjang. Mereka bukan hanya menanti dalam hitungan menit atau jam, tetapi dalam hitungan puluhan tahun. Salah satu yang kita bahas hari ini adalah Abraham - yang menanti janji Tuhan dengan sabar, teguh dan taat.

Sekalipun rasanya Tuhan belum melakukan apa-apa, Abraham tidak membiarkan masa penantian itu melemahkan imannya. Memang ia dicobai lewat ujian kesabaran yang membawanya pada keputusan manusiawi. Tetapi pada intinya, ia tidak menjadi pribadi yang tawar hati kepada Tuhan. Ia tetap percaya bahwa "Keturunannya akan seperti bintang di langit dan pasir di tepi pantai".

“Tetapi terhadap janji Allah ia (Abraham) tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” (Roma 4:20-21)

Karena ia menanti dengan sabar, maka Abraham memperoleh apa yang sudah dijanjikan Tuhan atasnya (Ibrani 6:15). Kita tahu Abraham menerima janji Tuhan, tetapi tidak langsung melihat penggenapannya. Dalam penantian itulah imannya diuji. Kadang proses karakter bukan terjadi saat kita sibuk bergerak, tetapi saat kita harus tetap percaya meski belum melihat hasilnya.

 

Momen Refleksi:

Adakah sebuah janji yang Tuhan sampaikan kepada Anda - mungkin itu adalah janji untuk mendapatkan keturunan, bertemu pasangan hidup, atau musim hidup yang berbeda dan sebagainya, dan di masa penantian itu apakah Anda sabar menanti atau justru tawar hati? 

Mari merefleksi, apa yang Anda alami selama masa penantian itu? Atau adalah masa dimana hati Anda goyah akan janji-Nya?

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?