Rasa Takut yang Merugikan
Kalangan Sendiri

Rasa Takut yang Merugikan

Lori Official Writer
      165

Mazmur 46: 1-3 

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” 

 

Jika Anda bisa membuat daftar rasa takut yang pernah Anda hadapi dalam hidup, kira-kira apa saja itu? Waktu kecil, rata-rata dari kita mungkin takut dengan gelap atau takut bertemu orang asing dengan muka yang aneh. Lalu setelah beranjak dewasa, rasa takut kita mulai berubah kepada sesuatu yang belum terjadi—seperti takut tidak lulus ujian, takut tidak dapat jodoh, takut menikah, takut kepada bos, atau mungkin takut menjadi orang yang dianggap gagal. 

Ya, semua orang pasti merasakan tingkatan rasa takut yang berbeda. Faktanya, ini bukan saja kita alami sebagai pribadi, tetapi rasa takut juga bisa menyerang gereja, korporasi, lembaga, sampai level pemimpin negara. Waktu kita merespons sebuah keadaan dengan rasa takut, maka akan muncul kepanikan destruktif yang bukan saja merugikan diri kita sendiri, tetapi juga orang lain. Salah satu akibatnya bisa kita lihat dari gejolak perang antarnegara yang saat ini terjadi. 

Tahukah Anda apa yang menjadi pemicunya? Rasa takut terhadap kekuatan bangsa lain. Untuk menghadapi ketakutan tersebut, pemimpin sebuah negara sering kali mengambil tindakan agresif yang memicu perang. Akibatnya, keputusan ini merenggut banyak nyawa dan mengganggu kestabilan dunia. Perang yang ditabuh karena rasa takut kini berubah menjadi goncangan global yang membuat semua negara menjadi gusar. 

Tetapi pagi ini, kita mau belajar dari Mazmur 46 tentang bagaimana seharusnya kita merespons rasa takut. Bagian perikop ini adalah ayat pujian pemazmur yang menggambarkan bahwa "Tuhan adalah sumber perlindungan di tengah keadaan yang bergoncang—baik oleh bencana alam maupun perubahan yang melambangkan gejolak dunia." Di tengah ancaman itu, pemazmur menegaskan bahwa "Tuhan adalah tempat perlindungan dan penolong." Sehingga apa pun yang menjadi ketakutan kita, kita tahu kepada siapa harus mengadu.  

Saat ini, kita mungkin sedang berada di posisi yang sama—menjadikan rasa takut sebagai katalisator utama penyebab terjadinya konflik dengan diri sendiri maupun orang lain. Akibatnya, kita bukannya menjadi lebih tenang malahan semakin merasa gusar. Inilah akibat yang harus kita tanggung kalau kita tidak mencari sumber pertolongan yang tepat. 

Bulan ini adalah masa Pra-Paskah, momen bagi kita untuk mengalami pertobatan. Inilah waktu yang tepat untuk bertobat dari rasa takut apa pun yang sedang kita hadapi. Kita dipanggil mencari Tuhan sebagai tempat perlindungan melalui doa, puasa, maupun merenungkan kembali Firman-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan kuasa sebesar apa pun mengalahkan kita jika kita meminta Dia ada di pihak kita (Roma 8:31).  

Saudara, tindakan yang didorong rasa takut sering kali membawa kehancuran, sementara mengandalkan Tuhan mendatangkan ketenangan. 

Ikuti Kami