Mengapa Banyak Anak Muda Jadi Agnostik dan Ateis?
Sumber: Canva

News / 12 November 2023

Kalangan Sendiri

Mengapa Banyak Anak Muda Jadi Agnostik dan Ateis?

Puji Astuti Official Writer
728

Seorang remaja beriniasia AB, berusia 15 tahun di Jakarta Timur melompat dari Rusun Ujung Menteng pada Senin (2/10/2023). Kasus ini mengungkap kehidupan kontroversial remaja tersebut, orang tua korban mengakui bahwa anak mereka suka mengurung diri main game dan terlalu berlebihan dalam mengidolakan Hitler, bahkan melebihi kepercayaan pada Tuhan.  

Kapolsek Cakung, Kompol Panji Ali Candra, mengungkapkan bahwa remaja ini terpengaruh oleh komunikasi internasional melalui aplikasi Discord, yang membuatnya meragukan keberadaan Tuhan. Keluarga terlibat pertengkaran sebelum akhirnya remaja tersebut bunuh diri.  

Sangat mengejutkan bukan?  Game online, sosial media dan akses informasi global mempengaruhi anak-anak muda dengan sangat masif. Kasus remaja di Jakarta Timur itu hanyalah salah satu contoh yang mengenaskan, ketika seorang anak kehilangan iman mereka.  

Seberapa besar dampak perkembangan teknologi pada iman anak muda?

Presiden Jokowi pada Agustus 2023 lalu mengutip survei Ipsos Global Religion 2023. Survei ini dilakukan terhadap 19.731 orang dari 26 negara di dunia, dan hasilnya sebanyak 29% menyatakan Agnostik dan Ateis.  

Menurut survei Bilangan Research menunjukkan bahwa anak-anak muda mulai meninggalkan gereja. Persentase remaja yang tidak rutin beribadah meningkat seiring dengan kelompok usia. Pada rentang usia 15-18 tahun jumlah remaja yang tidak rutin beribadah sebanyak 7.7%, meningkat menjadi 10.2% pada usia 19-22 tahun, dan mencapai 13.7% pada usia 23-25.  

Apakah Gereja sudah tidak relevan dengan anak muda?

Apa alasan mereka untuk mulai berhenti datang ke gereja ? Sebanyak 28.2% mengatakan bahwa ada banyak kegiatan yang menarik di luar gereja.  

Saat ini dunia menawarkan banyak hal menarik bagi generasi muda, seperti  infomasi yang relevant dengan hidup mereka, game yang menyenangkan, musik dan hiburan dari berbagai penjuru dunia yang dapat di akses dimana saja.   

Anak-anak muda yang kritis dan memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan, nilai-nilai, iman dan Tuhan ini seringkali tidak bisa menemukan jawaban dari orangtua mereka, guru, dan bahkan di gereja mereka. Mereka akhirnya bertanya dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang akan mengarahkan kehidupan mereka ke depan di dunia maya. Mereka melakukan diskusi di sosial mereka, mencarinya dari video-video dan bahkan bertanya pada mesin kecerdasan buatan/AI.  Jadi tidak heran jika kasus remaja AB tadi bisa terjadi. 

Ada 3 hal penting yang harus di sadari orangtua dan gereja di era AI saat ini :  

  1. Era globalisasi informasi memungkinkan siapapun mengakses berbagai informasi dari seluruh dunia. Akses ini memungkinkan pemahaman tentang berbagai budaya, agama, dan kepercayaan. 
  2.  Anak-anak yang tidak dibimbing sejak dini rentan terhadap pengaruh negatif dari game, film, sosial media, dan teman-teman. Pengaruh ini dapat menggoyahkan iman mereka dan mempengaruhi perkembangan nilai-nilai mereka. 
  3. Remaja, dalam fase pencarian identitas, mencari makna hidup dan tujuan. Bagi mereka, aspek spiritualitas seringkali menjadi sarana mencari jawaban; jika orangtua, gereja, dan guru tidak memberikan panduan relevan, mereka mungkin mencari jawaban di tempat lain. 

Kasus remaja AB yang bunuh diri karena kehilangan iman adalah peringatan keras bagi orangtua dan gereja. Globalisasi informasi, media sosial, dan perkembangan teknologi telah menciptakan lingkungan yang sangat kompleks dan penuh tantangan bagi anak-anak muda. 

Apa yang harus dilakukan untuk menolong mereka?

Oleh karena itu, orangtua dan gereja perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk melindungi iman anak-anak muda. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan: 

  • Bagi orangtua penting mengajarkan iman Kristen sejak dini. Anak-anak yang dimuridkan sejak usia dini akan memiliki fondasi iman yang kuat dan akan lebih tahan terhadap pengaruh-pengaruh negatif. 
  • Jadilah teladan. Jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki iman yang kuat, maka Anda harus menunjukkan kepada mereka bagaimana cara hidup yang beriman. 
  • Berikan ruang bagi anak-anak Anda untuk bertanya dan berdiskusi tentang iman. Jangan takut untuk menjawab pertanyaan mereka, bahkan jika pertanyaannya sulit atau membingungkan. 
  • Hubungkan anak-anak Anda dengan komunitas Kristen yang sehat dimana mereka mendapatkan dukungan dan bimbingan  dalam perjalanan iman mereka. 

Dan untuk gereja Tuhan di Indonesia, kondisi saat ini sangat kritis dan tidak bisa dinggap remeh lagi. Ada jutaan anak-anak muda yang kehilangan iman dan mengalir keluar dari gereja karena tawaran dunia lebih menarik. Gereja harus melakukan tindakan cepat dan terarah untuk menyelamatkan mereka.  Apakah kita siap membayar harga untuk menyelamatkan mereka?  

Jika Anda merasakan urgensi yang sama tentang hal ini, berikan pendapat Anda di kolom komentar. 

Sumber : Berbagai Sumber / Puji Astuti
Halaman :
1

Ikuti Kami