Pekerjaan Menjadi Persembahan untuk Melayani Tuhan

Renungan Harian / 1 July 2026

Pekerjaan Menjadi Persembahan untuk Melayani Tuhan
Lori Official Writer
      138

Kisah Para Rasul 18:1-4

"Sesudah itu Paulus meninggalkan Atena dan pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya...Karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama mereka dan bekerja di situ. Mereka bekerja sebagai tukang kemah. Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani."

 

Suatu kali, dalam sebuah perjalanan pelayanan, saya harus menempuh jarak yang jauh, melewati hutan, mendaki dan menuruni gunung, sebelum akhirnya tiba di sebuah desa terpencil pada malam hari. Di sana, saya bertemu dengan para penduduk yang sudah menunggu. Mereka datang dengan berjalan kaki, menempuh jarak yang sama jauhnya, bahkan tanpa bekal yang cukup di tangan mereka. Jika hujan turun, mereka basah kuyup di tengah jalan. Namun semangat mereka untuk hadir dan beribadah tidak pernah surut.

Saat saya berdoa bersama mereka malam itu, Tuhan menaruh satu pertanyaan sederhana di hati saya: "Sudahkah engkau melakukan bagianmu seperti mereka melakukan bagiannya?" Pertanyaan itu seperti tamparan yang menyadarkan saya. Saya datang dari ruangan yang nyaman, dengan segala kebutuhan yang mudah terpenuhi. Sementara mereka, dengan segala keterbatasan, memberikan yang terbaik bagi Tuhan tanpa keluhan — dengan hati yang murni dan kerja keras yang tulus.

Saat itulah saya disadarkan bahwa pelayanan yang sesungguhnya bukan diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa sungguh hati kita ketika mempersembahkannya kepada Tuhan. Pengorbanan sejati bukan soal besarnya harta yang kita beri, tetapi soal ketulusan hati saat kita memberikan apa yang kita punya — entah itu waktu, kemampuan, kekuatan, atau bahkan dari kekurangan kita sekalipun.

Dalam Kisah Para Rasul 18:1-4, kita melihat teladan ini secara nyata melalui kehidupan Paulus bersama Akwila dan Priskila, pasangan suami istri yang baru saja kehilangan tempat tinggal di Italia. Namun ketika bertemu Paulus di Korintus, mereka tidak ragu membuka rumah dan pekerjaan mereka untuknya. Karena memiliki keahlian yang sama sebagai tukang kemah, Paulus tinggal dan bekerja bersama mereka — bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan untuk membiayai pelayanannya sendiri. Setiap hari ia bekerja dengan tangannya, dan setiap hari Sabat ia memberitakan Injil di rumah ibadat. 

Mereka tidak mengandalkan proposal atau belas kasihan orang lain. Tetapi mereka memilih untuk bekerja dengan tangannya sendiri, sebagai bentuk nyata dari kesungguhan hati melayani Tuhan.

Yang menarik, Akwila dan Priskila pun bukan sekadar tuan rumah yang pasif. Mereka kelak menjadi rekan sekerja Paulus yang setia, bahkan ikut mengajar dan membangun jemaat di berbagai kota. Mereka membuktikan bahwa pelayanan tidak harus menunggu jabatan khusus atau panggung besar — cukup dengan hati yang mau memberi ruang, waktu, dan keahlian yang mereka miliki untuk pekerjaan Tuhan.

 

Refleksi Pribadi:

1. Apakah selama ini Anda sudah melayani Tuhan dengan kerja keras, ketulusan, dan kemurnian hati yang sungguh-sungguh — atau justru hanya dari sisa waktu dan kelebihan yang Anda miliki?

2. Hari ini, persembahkanlah yang terbaik dari dirimu kepada Tuhan — sekecil apa pun itu — dengan hati yang murni dan sungguh-sungguh.

Selamat melayani Tuhan dengan segenap hati. 

Tuhan Yesus memberkati.

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?