Mempersembahkan yang Terbaik

Renungan Harian / 15 September 2026

Mempersembahkan yang Terbaik
Lori Official Writer
      162

Mazmur 116: 12

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN..."

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah lupa bahwa setiap kita diberikan Tuhan potensi untuk dikembangkan. Namun sering kali kita tidak melihat peluang besar yang sebenarnya bisa kita kembangkan untuk mempersembahkan yang terbaik dari hidup kita bagi Tuhan.

Saya pernah mengunjungi sebuah tempat wisata yang menggambarkan hal ini dengan jelas. Para pelaku usaha kecil di sana bertahan hidup dengan cara menaikkan tarif tiket, harga makanan dan minuman, bahkan memungut biaya toilet dengan harga yang tidak sebanding dengan kualitasnya. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, tempat itu sebenarnya punya begitu banyak potensi untuk dikembangkan—potensi yang bisa mendatangkan pendapatan lebih besar tanpa harus mengorbankan kenyamanan pengunjung dengan memungut biaya di sana sini.

Cerita ini menggambarkan sesuatu yang sering terjadi pada kita, terutama soal bagaimana kita memperlakukan talenta yang Tuhan percayakan. Kita sering terlena dengan apa yang sudah biasa kita lakukan, sampai akhirnya menjadi mandek. Lalu kita berkata kepada Tuhan, "Aku sudah melakukan semua yang aku bisa. Ini yang paling maksimal." Kita mulai merasa cukup puas, padahal yang kita lakukan hanyalah rutinitas—bukan pengembangan yang sungguh-sungguh.

Pemazmur mengajak kita merenungkan satu pertanyaan penting: "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?" (Mazmur 116: 12) Ini bukan pertanyaan retoris biasa. Ini pertanyaan yang lahir dari kesadaran penuh akan kebaikan Tuhan, dan jawabannya bukan sekadar ucapan syukur di bibir, melainkan tindakan nyata—pemazmur berkata ia akan "mengangkat piala keselamatan" dan "menyerukan nama TUHAN," sebuah gambaran persembahan hidup yang penuh dan sungguh-sungguh.

Tuhan Yesus sendiri, dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30), menunjukkan bahwa hamba yang mengembangkan talentanya memperoleh hasil yang eksponensial. Sementara yang nyaman dengan yang dia miliki berhadapan dengan kemandekan - tidak terjadi terobosan. 

Saudara, apa pesan yang bisa kita renungkan pagi ini? Satu hal yang bisa kita renungkan bahwa talenta yang Tuhan berikan kepada kita —apapun bentuknya — adalah bagian dari kebajikan-Nya yang layak dibalas dengan cara yang sama. Bukan dengan mempersembahkan diri kita apa adanya, tetapi dengan mengembangkan talenta, kapasitas, maupun potensi yang kita miliki sepenuh hati sebagai ucapan syukur. 

 

Refleksi Pribadi:

Mari merenungkan Mazmur 116:12 dan tuliskan jawaban Anda sendiri atas pertanyaan pemazmur: Talenta atau potensi apa yang selama ini hanya Anda jalankan sebagai rutinitas, padahal sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh lagi? Wujudkan jawaban itu dalam satu tindakan nyata dalam hidup Anda sehari-hari.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?