Mengorbankan Rasa Aman Karena Iman

Renungan Harian / 26 May 2026

Mengorbankan Rasa Aman Karena Iman
Lori Official Writer
      88

Ibrani 11:31

"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik."

 

Saudara yang mungkin pernah bekerja di sebuah lingkungan kerja yang tidak sehat mungkin bisa tahu rasa ini: Saat Anda tahu sesuatu yang salah terjadi, Anda diperhadapkan dengan dua pilihan yaitu diam supaya posisi Anda tetap aman atau bersuara sekalipun risikonya Anda akan kehilangan segalanya. Dan kita perlu jujur kepada diri kita sendiri, kita tergoda untuk memilih diam dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Kita mau pekerjaan kita tetap aman, penghasilan kita tetap lancar dan keluarga kita bisa tetap merasa aman. Tetapi ada saja orang yang memilih untuk melakukan sebaliknya - mengambil risiko sekalipun itu mempertaruhkan seluruh hidupnya.

Rahab tahu persis rasanya bagaimana mengambil risiko dan keluar dari rasa aman hidupnya. Ia adalah seorang perempuan sundal, yang artinya dia tidak berasal dari latar belakang yang baik di masa itu. Tetapi di situlah poinnya - bahwa seorang perempuan yang dikenal berdosa justru berani bertindak melindungi para pengintai - sekalipun  dia tahu bahwa menyambut pengintai Israel berarti mengkhianati negaranya, mempertaruhkan keselamatannya, dan menyeret seluruh keluarganya ke dalam bahaya yang sama (Yosua 2:12-13).

Tindakan inilah yang membuat namanya masuk dalam deretan "orang-orang beriman" yang dituliskan di dalam Ibrani bersama jajaran para nabi dan pejuang iman lainnya. Di sana dikatakan, "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (Ibrani 11: 31) 

Pengorbanan Rahab adalah pengorbanan yang digerakkan dari iman kepada Tuhan yang benar. Dia harus memilih antara tetap mengamankan hidupnya atau mengambil risiko besar untuk percaya kepada Tuhan yang baru ia dengar kuasa-Nya. 

Mari merefleksikan sejenak apa yang bisa kita pelajari dari iman seorang Rahab yang bersedia berkorban. Apakah Anda bersedia bertindak dengan cara yang sama di tengah situasi yang Anda hadapi dalam hidup? Adalah "rasa aman" dalam hidup Anda yang tampaknya jauh lebih besar dan membuat Anda memilih diam saja. 

Saya berdoa kiranya melalui pelajaran iman dari Rahab, kita belajar bahwa memiliki iman bukan berarti kita tidak akan pernah takut. Sebagai manusia, rasa takut itu sesuatu yang normal. Tetapi apakah kita berani melawan rasa takut tersebut karena kita mengasihi Tuhan lebih dari apapun? Sama seperti Rahab, risiko apapun yang diperhadapkan kepadanya tidak berarti apa-apa selama dia berpihak kepada Tuhan yang benar dan hidup (Yosua 2: 11).

 

Momen Refleksi:

1. Hal salah apa yang selama ini Anda biarkan dengan diam karena takut kehilangan rasa aman?

2. Mintalah hari ini kekuatan dari Tuhan untuk memampukan Anda mengambil tindakan iman yang berani seperti Rahab.

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?