Saat Orang Tercinta Pun Menyalahkanmu

Renungan Harian / 19 October 2026

Saat Orang Tercinta Pun Menyalahkanmu
Lori Official Writer
      206

1 Samuel 30:6

"Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya."

 

 

Dulu, kamu memilih berhenti dari pekerjaan tetap yang sudah memberimu rasa nyaman demi satu mimpi untuk membangun usaha sendiri. Keputusan itu kamu ambil dengan pikiran yang matang dan meyakinkan keluarga bahwa ini adalah langkah untuk masa depan yang lebih baik.  

Setelah resign - modal yang sudah kamu kumpulkan semua terkuras untuk usaha. Sampai akhirnya tiba di titik usaha tidak berkembang dan modal habis. Sementara kehidupan harus terus berjalan - harus ada pemasukan tetap untuk membiayai kebutuhan yang terus berjalan. 

Dan di suatu malam, saat kamu duduk di meja makan dalam kondisi sunyi, pasanganmu berkata pelan namun menusuk, “Kalau saja dulu kamu tidak resign, kita tidak akan sesulit ini.” 

Ada peluru yang terasa ditembakkan tepat di ulu hatimu. Membuatmu terdiam. Kamu sendiri sudah merasa gagal dan mulai menyalahkan dirimu sendiri, dan waktu mendengar orang yang paling kamu cintai menyalahkan keputusanmu, luka yang kamu pikul justru menjadi dua kali lipat. 

Tidak ada yang bertanya apakah kamu baik-baik saja. Kamu mulai menanggungnya sendiri di dalam sunyi.

Daud pernah merasakan luka yang sama. Sekembalinya dari perjalanan, ia mendapati kota Ziklag habis terbakar dan istri serta anak-anak mereka dibawa pergi oleh orang Amalek (1 Samuel 30:1-3). Daud menangis sampai tak bertenaga (ayat 4). Di tengah kesedihan dan rasa bersalah itu, orang-orang yang selama ini berjuang bersamanya - yang juga kehilangan keluarga mereka - lalu menyalahkan dan menyudutkan dia. Bahkan mereka berniat untuk melempari Daud dengan batu.

Yang dirasakan Daud diungkapkan di dalam 1 Samuel 30: 6:

"Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya."

Dia sangat “terjepit” karena kehilangan keluarganya. Tapi disaat yang sama, dia juga kehilangan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Sebagai pemimpin, Daud disalahkan atas keadaan yang mereka hadapi. Itu bisa tentang keputusannya, responnya dan ketidakmampuannya mencegah kejadian itu. Dan Daud merasa sangat terluka.

Saudara, tekanan ini sangat akrab bagi para kepala keluarga: suami, ayah, dan pencari nafkah utama yang dituntut menjamin kesejahteraan keluarga, harus selalu berhasil, harus kuat, dan tidak boleh salah mengambil keputusan. Lalu apa yang Daud lakukan? Ia tidak membalas, tidak membela diri dengan emosi, dan tidak lari. Alkitab mencatat, “Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” Ketika tidak ada yang menguatkannya, ia mencari kekuatan langsung dari sumbernya, mengingat Tuhan yang menyertainya sejak menggembalakan domba hingga menghadapi Goliat. Ia tidak berpura-pura kuat, tetapi mengambil langkah iman.

Dari waktu sunyinya, Daud bertanya kepada Tuhan, lalu bergerak bersama orang-orangnya untuk mengejar para penawan (ayat 7-8). Ia tidak melawan mereka yang menyalahkannya. Itulah buah dari hati yang dikuatkan dalam Tuhan, dan akhirnya semua yang dirampas berhasil dipulihkan (ayat 18-19).

Mungkin kamu adalah suami atau ayah yang disalahkan oleh orang yang paling Anda cintai, atau kamu adalah orang yang selalu disalahkan di kantor, lingkungan sekitar atau pelayananmu. Itu sangat menyakitkan, tetapi marah, melawan, mengambil tindakan putus asa bukanlah jalan untuk menyembuhkan luka. Datanglah kepada Tuhan, renungkan Firman-Nya, dan tersungkurlah di kaki-Nya. Dari tempat itulah Anda akan mampu tetap tegar mendengarkan kata-kata yang menyakitkan, lalu bersama pasangan mencari jalan untuk bangkit dari keterpurukan.

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Kepada siapa atau apa saya biasanya mencari kekuatan ketika merasa disalahkan dan tidak dimengerti?

2. Apakah saya cenderung membalas, membela diri, atau menarik diri, sebelum membawa luka itu kepada Tuhan?

3. Setelah dikuatkan Tuhan, langkah apa yang bisa saya ambil untuk bergerak bersama keluarga, bukan melawan mereka?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?