Meninggalkan Warisan Kebaikan

Renungan Harian / 24 July 2026

Meninggalkan Warisan Kebaikan
Lori Official Writer
      87

Kisah Para Rasul 10:2

Ia dan seluruh keluarganya adalah orang-orang yang saleh dan takut akan Allah; ia memberi dengan murah hati kepada orang-orang yang membutuhkan dan berdoa kepada Allah secara teratur.

 

Ketika seseorang meninggal dunia, yang paling sering dibicarakan bukan seberapa besar rumahnya atau seberapa tinggi jabatannya. Yang paling diingat dan yang paling membuat orang menangis di pemakaman adalah bagaimana ia memperlakukan orang lain. Kebaikan yang ia tabur, kasih yang ia hidupi dan itulah warisan yang sesungguhnya.

Warisan inilah yang ditinggalkan seorang Kornelius semasa hidupnya.

Ia adalah seorang perwira pasukan Romawi, pemimpin dari sebuah batalion yang disebut Pasukan Italia. Dari sudut pandang dunia, ia adalah orang yang punya kuasa, otoritas, dan pengaruh. Tetapi yang membuat Lukas mencatatnya dalam Kisah Para Rasul bukan pangkat militernya, melainkan cara hidup dan kebaikannya.

Kisah Para Rasul 10: 2 merangkum hidup Kornelius dalam empat hal yang sangat spesifik. Pertama, dia adalah pribadi yang saleh, takut Tuhan, suka memberi kepada orang miskin, dan tekun berdoa. Yang paling luar biasa adalah kesalehan Kornelius tidak berhenti hanya untuk dirinya sendiri. 

Di ayat 2 dengan jelas mencatat bahwa ia dan seluruh keluarganya hidup takut akan Tuhan. Artinya, apa yang Kornelius hidupi membentuk cara hidupnya dan seluruh keluarganya memandang Tuhan dan sesama.

Inilah yang Tuhan perhitungkan dari hidup Kornelius. Seperti disampaikan malaikat kepadanya. "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau." (Kisah Para Rasul 10: 2) Tuhan tidak hanya mencatat apa yang Kornelius lakukan, bahwa Ia mengingat setiap tindakan kebaikan yang mengalir dari hidup pria ini. Tidak ada satu pun yang luput. Tidak ada satu pun yang sia-sia.

Inilah yang perlu kita bawa ke dalam kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman di mana pengaruh diukur dari jumlah pengikut di media sosial dan harta finansial menjadi asset yang bisa diwariskan. Namun dari Kornelius kita diingatkan bahwa warisan yang paling berharga dalam hidup kita adalah cara hidup dan kebaikan kita.  

Warisan kebaikan yang dilakukan Kornelius tidak terjadi tiba-tiba. Tetapi dilakukan secara konsisten setiap hari - apakah kita memperlakukan orang lain sama seperti kita memperlakukan Tuhan? Apakah kita memilih untuk memberi ketika kita bisa mengabaikan? Apakah kita memilih untuk berdoa ketika kita bisa bermalas-malasan? 

Kornelius tidak dicatat dalam Alkitab karena satu tindakan heroic yang dia lakukan. Ia tercatat dalam bagian kitab karena kesalehan dan kebaikan hatinya. 

 

Action Praktis:

Bagaimana dengan kita? Jika kita meninggalkan nanti, kita mau dikenang sebagai sosok seperti apa? Mari mewariskan sesuatu yang akan dikenang baik sampai kepada keturunan kita kelak - salah satunya seperti yang dilakukan Kornelius - bukan hanya hidup saleh dan takut akan Tuhan, tetapi dia juga membagi apa yang ada dalam hidupnya kepada orang lain.  

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?