Berlabuh di Tengah Badai

Kata Alkitab / 9 July 2026

Berlabuh di Tengah Badai
Sumber: Canva
Harry Lee Contributor
83

Hidup bisa berubah dalam sekejap. Sesaat Anda mungkin sedang berlayar di perairan yang tenang dan cerah, namun tak lama kemudian, badai dahsyat datang menerjang, mengancam akan menenggelamkan segala sesuatu yang telah Anda bangun. Entah itu diagnosis medis yang tiba-tiba, kehilangan pekerjaan, atau tragedi keluarga yang memilukan, kita semua pasti menghadapi saat-saat ketika pijakan di bawah kaki kita terasa berguncang hebat.

Bagaimana kita bisa tetap teguh saat dunia kita seakan runtuh? Jawabannya adalah iman yang tak tergoyahkan. Namun, iman sejati bukanlah gelembung ajaib yang melindungi kita dari hal-hal buruk. Sebaliknya, iman bekerja layaknya sebuah jangkar.

Bayangkan sebuah kapal besar yang terjebak dalam badai hebat. Kapal itu tidak selamat karena mengandalkan kekuatannya sendiri, ataupun dengan berpura-pura bahwa badai itu tidak ada. Kapal itu selamat karena menjatuhkan jangkar baja yang berat hingga ke dasar laut, mencengkeram batuan kokoh yang tersembunyi jauh di balik deburan ombak. Saat krisis melanda, iman kita melakukan hal yang persis sama: iman melampaui perasaan kita yang sementara dan mudah berubah, lalu menambatkan diri pada karakter Allah yang kekal dan tak tergoyahkan.

 

Apa Kata Alkitab tentang Krisis?

Alkitab tidak menutupi kenyataan yang menyakitkan. Alkitab secara terus terang menyatakan bahwa kesulitan pasti akan datang, namun juga menjanjikan bahwa kita tidak perlu menghadapinya sendirian. Perhatikan apa yang ditulis Raja Daud dalam Mazmur 46:1-2: 

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.  Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut…”

Perhatikan bahwa Alkitab tidak mengatakan “jika” kesesakan terjadi, melainkan “dalam” kesesakan. Allah digambarkan sebagai “penolong yang sangat terbukti.” Dia tidak sekadar menyaksikan penderitaan Anda dari jarak yang aman; Dia hadir tepat di sana, di tengah pergumulan bersama Anda.

Pengingat penting lainnya datang dari kitab Amsal:

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” — Amsal 3:5-6 

Saat krisis datang secara tak terduga, “pengertian kita sendiri” tidak lagi memadai. Kita bertanya, “Kenapa aku?" namun tidak menemukan jawaban seketika. Iman yang teguh berarti memilih untuk mempercayai hati Allah bahkan ketika kita tidak dapat melihat cara kerja tangan-Nya.

 

Baca Juga: Kekuatan Luar Biasa dari Kesetiaan yang Teguh

 

Iman yang Bertahan: Joni Eareckson Tada

Untuk melihat wujud nyata dari hal ini, kita bisa menilik perjalanan luar biasa Joni Eareckson Tada. Pada tahun 1967, Joni adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang energik dan atletis, dengan masa depan yang cerah membentang di hadapannya. Saat menikmati hari musim panas di Chesapeake Bay, ia salah memperkirakan kedalaman air dan melompat dari rakit ke area yang dangkal. Benturan tersebut mematahkan tulang belakangnya, menyebabkannya mengalami quadriplegia—kelumpuhan permanen dari leher ke bawah.

Dalam foto Joni yang saya lihat di Website, saya menangkap pancaran sukacita dan kedamaian mendalam di wajah Joni saat ia berbicara di depan mikrofon dari kursi rodanya. Sulit membayangkan bahwa ekspresi penuh cahaya itu adalah milik seorang wanita yang telah menghabiskan lebih dari 50 tahun tanpa kemampuan menggerakkan tangan atau kakinya. 

Iman Joni tidak serta-merta menjadi teguh sejak awal. Pada masa-masa awal krisisnya, ia jatuh ke dalam depresi berat dan keputusasaan yang kelam, bahkan memohon kepada teman-temannya untuk membantunya mengakhiri hidup. Ia bergumul hebat dengan Allah, menuntut jawaban mengapa Ia membiarkan hal ini terjadi.

Namun, di tengah badai yang berkecamuk, Joni berhenti melawan jangkar jiwanya dan mulai berpegang erat padanya. Ia menyadari bahwa meskipun tubuhnya rusak, kasih Allah tetap utuh sepenuhnya. Ia belajar melukis menggunakan mulutnya, merekam musik, dan akhirnya mendirikan “Joni and Friends”, sebuah pelayanan global yang menyediakan kursi roda, berbagai sumber daya, dan pengharapan yang berpusat pada Kristus bagi keluarga-keluarga yang terdampak disabilitas. Alih-alih membiarkan kursi rodanya menjadi penjara, imannya mengubah kursi roda itu menjadi sarana untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kasih karunia Allah mencukupi kita bahkan dalam kelemahan yang terdalam.

 

Baca Juga: Menggali Akar Sabotase Diri

 

Iman yang Retak: Charles Templeton

Namun, apa yang terjadi ketika badai terasa terlalu berat dan jangkar iman terlepas? Ini adalah kenyataan menyakitkan yang harus kita hadapi dengan jujur. Contoh nyata dan tragis mengenai iman yang retak akibat beban krisis adalah kisah Charles Templeton.

Pada tahun 1940-an, Charles Templeton adalah salah satu penginjil muda paling berpengaruh dan karismatik di dunia. Ia merupakan sahabat dekat sekaligus rekan pelayanan Billy Graham. Bahkan, banyak pemimpin gereja saat itu beranggapan bahwa Templeton adalah pengkhotbah yang lebih berbakat dan cemerlang dibandingkan Graham. Ia mampu memenuhi stadion-stadion besar, membawa ribuan orang kepada iman, dan tampak memiliki masa depan yang sangat cerah.

Pada saat saya memperhatikan dengan saksama raut wajah Charles Templeton dalam foto yang saya temukan di Website ini, terlihat jelas semangat membara dan kepercayaan diri masa mudanya telah berganti menjadi tatapan yang sangat muram dan analitis (saya ajak Anda untuk mencari foto-foto Charles Templeton yang beraneka ragam di Website agar dapat melihat perubahan raut wajahnya). Saat Templeton mengamati krisis global yang terjadi pada masanya, kenyataan pahit tentang penderitaan manusia mulai mengikis keyakinannya. Ia merasa sama sekali tidak mampu menyelaraskan gagasan tentang Allah yang penuh kasih dengan penderitaan luar biasa yang ia saksikan di dunia. Secara khusus, ia terus dihantui oleh sebuah foto di majalah yang memperlihatkan seorang ibu di Afrika Utara sedang memeluk bayinya yang telah meninggal akibat bencana kelaparan hebat.

Alih-alih membawa pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan itu kepada Allah—seperti yang pada akhirnya dilakukan oleh Joni—ia justru membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut menjauhkannya dari Allah. Ia akhirnya meninggalkan dunia pelayanan, menyatakan diri sebagai seorang agnostik (seseorang yang percaya bahwa kita tidak bisa mengetahui apakah Allah itu ada), dan menulis buku berjudul “Farewell to God” (Selamat Tinggal kepada Allah). Menjelang akhir hayatnya, Templeton secara terbuka mengakui dalam sebuah wawancara yang jujur dan mengharukan bahwa ia sangat merindukan Yesus, serta menggambarkan-Nya sebagai sosok manusia terpenting yang pernah hidup. Namun, tragisnya, imannya telah hancur total akibat krisis penderitaan tersebut.

 

Baca Juga: Belajar dari Elia Cara Melalui Krisis Ekstrem Dalam Hidup

 

Cara Membangun Iman yang Teguh

Perbedaan jalan hidup Joni Eareckson Tada dan Charles Templeton menunjukkan kepada kita bahwa masa krisis adalah sebuah persimpangan jalan. Badai kehidupan bisa membawa Anda semakin dekat ke hati Allah atau justru menyeret Anda hanyut jauh ke tengah lautan.

Lantas, bagaimana cara memastikan iman kita tetap kokoh berlabuh seperti iman Joni?

• Pupuk Iman Anda, Bukan Ketakutan Anda: Apa pun yang Anda fokuskan akan bertumbuh. Jika Anda menghabiskan waktu seharian membaca berita buruk atau terus-menerus memikirkan detail krisis yang Anda alami, rasa takut akan menguasai diri Anda. Bukalah Firman Tuhan setiap hari dan penuhi pikiran Anda dengan janji-janji-Nya.

• Jangan Mengisolasi Diri: Saat badai menerjang, naluri alami kita adalah menjauh dari orang lain dan menanggung penderitaan dalam diam. Namun, sebutir bara api akan cepat padam jika dipisahkan dari perapian. Tetaplah berada di tengah komunitas orang percaya yang dapat mendoakan dan menopang Anda saat Anda terlalu lemah untuk melangkah.

• Pertahankan Perspektif yang Benar: Ingatlah perkataan Yesus dalam Yohanes 16:33: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Menyadari bahwa pencobaan adalah bagian tak terelakkan dari dunia yang telah rusak ini akan mencegah kita merasa terkejut atau terguncang hebat saat hal itu terjadi.

Iman yang teguh bukanlah iman yang bebas sama sekali dari keraguan, air mata, atau rasa takut. Iman yang teguh hanyalah sebuah keputusan yang diambil setiap hari—dengan keteguhan hati—untuk tetap percaya kepada Allah apa pun yang terjadi. Saat dunia Anda mulai terguncang, jangan berfokus pada besarnya ombak yang menghantam Anda; arahkan pandangan Anda sepenuhnya pada kekuatan Jangkar Anda.

 

Harry Lee MD; PsyD; BBS

Pastor & Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles

Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?