Apa Persembahan Kurban yang Paling Baik?

Kata Alkitab / 27 May 2026

Apa Persembahan Kurban yang Paling Baik?
Sumber: huafires from Getty Images Pro
Claudia Jessica Official Writer
245

Setiap kali Idul Adha tiba, topik tentang kurban selalu menjadi perbincangan hangat. Di balik tradisi dan perayaan Idul Adha yang diperingati oleh umat Muslim, ada makna tentang ketaatan dan pengorbanan yang juga bisa dilihat dari kacamata Kristen.

Tentu, setiap agama memiliki pemahaman dan praktiknya masing-masing tentang kurban. Karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana iman Kristen memahami persembahan kurban berdasarkan Alkitab.

Dalam kehidupan Kristen, “persembahan” sering dipahami sebagai sesuatu yang diberikan kepada Tuhan, baik berupa uang, waktu, pelayanan, talenta, maupun seluruh hidup kita.

Tetapi ketika berbicara tentang persembahan kurban, muncul pertanyaan yang lebih dalam, kurban seperti apa yang paling berkenan kepada Allah?

Untuk menjawabnya, kita perlu melihat perjalanan panjang Alkitab—dari kurban dalam Perjanjian Lama hingga penggenapannya dalam Yesus Kristus di Perjanjian Baru.

Persembahan Kurban dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, umat Israel mempersembahkan berbagai jenis kurban kepada Allah. Ada kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah.  (Imamat 1-5).

Persembahan itu dapat berupa lembu, domba, kambing, burung tekukur atau anak burung merpati, serta hasil tanah seperti tepung, minyak, dan kemenyan. (Imamat 1:3, 10, 14; 2:1–2)

Namun ada satu prinsip penting, persembahan kepada Tuhan harus diberikan dari yang terbaik. Hewan yang dipersembahkan tidak boleh bercacat. Hal ini terlihat berulang kali dalam kitab Imamat, misalnya ketika Allah memerintahkan agar korban bakaran dari lembu atau kambing domba harus “jantan yang tidak bercela.” (Imamat 1:3, 10)

Prinsip yang sama juga ditegaskan dalam Ulangan 15:21, bahwa hewan yang cacat, timpang, atau buta tidak boleh dipersembahkan kepada Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa Allah layak menerima yang kudus, murni, dan terbaik dari umat-Nya, tetapi Alkitab juga menegaskan bahwa Allah tidak pernah hanya melihat wujud luar dari persembahan. Ia melihat hati.

Hal ini tampak dalam 1 Samuel 16:7, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Prinsip ini juga ditegaskan melalui teguran para nabi, seperti dalam Yesaya 1:11–17 dan Amos 5:21–24, ketika Tuhan menolak ibadah dan korban umat-Nya karena hidup mereka tidak disertai pertobatan, keadilan, dan ketaatan.

 

Salah satu contoh paling awal tentang persembahan yang berkenan kepada Allah dapat dilihat dalam kisah Kain dan Habel. Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya, sedangkan Habel mempersembahkan anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya, tetapi tidak mengindahkan Kain dan korban persembahannya. (Kejadian 4:3–5)

Perjanjian Baru kemudian menjelaskan bahwa persembahan Habel berkenan karena diberikan dengan iman. Dalam Ibrani 11:4 dijelaskan bahwa Habel mempersembahkan korban yang lebih baik karena iman. Artinya, persembahan yang berkenan kepada Tuhan bukan hanya persembahan yang terlihat baik, tetapi persembahan yang lahir dari iman yang benar.

Hal serupa juga tampak dalam kisah Abraham. Ketika Allah menguji Abraham untuk mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihinya, Abraham menunjukkan ketaatan yang besar kepada Tuhan. Namun pada akhirnya, Allah sendiri menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti Ishak. (Kejadian 22:1–14)

Kisah ini memperlihatkan bahwa Allah tidak hanya menuntut ketaatan, tetapi juga menyediakan jalan keselamatan. Dalam iman Kristen, kisah ini sering dipahami sebagai bayangan dari karya Allah yang kelak menyediakan korban yang sempurna bagi manusia melalui Yesus Kristus.

Kurban dalam Perjanjian Lama Bersifat Sementara

Dalam hukum Taurat, kurban memiliki peran penting dalam kehidupan umat Israel. Ada kurban untuk pengampunan dosa, pendamaian, ucapan syukur, dan pemulihan relasi dengan Allah.

Salah satu momen paling penting adalah Hari Pendamaian atau Yom Kippur, ketika imam besar mempersembahkan korban untuk pendamaian dosa umat Israel. (Imamat 16)

Namun, kurban-kurban ini harus dilakukan berulang-ulang. Ini menunjukkan bahwa sistem kurban dalam Perjanjian Lama belum menjadi penyelesaian yang sempurna atas dosa manusia. Kurban hewan dapat menjadi tanda pendamaian dalam perjanjian Allah dengan Israel, tetapi tidak dapat secara final menghapus dosa manusia.

Ibrani 10:4 menjelaskan hal ini dengan sangat jelas:

“Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”

Artinya, kurban dalam Perjanjian Lama memiliki fungsi penting, tetapi sifatnya sementara dan menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar, yaitu kurban yang sempurna di dalam Kristus.

Yesus Kristus, Anak Domba Allah

 

HALAMAN SELANJUTNYA →

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?