Menemukan, Bukan Memperbaiki
Sumber: Canva.com/Freepik

Kata Alkitab / 21 March 2026

Kalangan Sendiri

Menemukan, Bukan Memperbaiki

Harry Lee Contributor
163

Sudah menjadi naluri umum ketika kita memandang generasi muda: kita melihat “masalah” yang harus diselesaikan atau “kekosongan” yang harus diisi. Kita mendekati pelayanan pemuda atau peran sebagai orang tua layaknya sebuah bengkel perbaikan, berusaha memukul rata penyok-penyok dan mengecat ulang permukaannya agar mereka sesuai dengan gagasan kita tentang seperti apa seharusnya sosok “Kristen yang baik” itu.

Namun, Tuhan tidak sedang mencari kru perbaikan; Dia sedang mencari para tukang kebun.

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” — Efesus 2:10 (TB)

Mari kita pelajari perbedaan sudut pandang antara Sang Pemahat, Sang pengamat dan Batu Pualam – perbedaan apa yang terlihat jelas antara kedua kelopmpok ini dan pelajaran apa yang dapat kita petik darinya?

 

Baca Juga: Kehilangan Posisi Terbaik Karena Pikiran

 

Bayangkan seorang Pemahat Ulung berdiri di hadapan sebongkah batu yang sangat besar dan kasar. Seorang pengamat mungkin hanya melihat batu yang berat dan tak berguna, lalu berpikir, “Kita perlu menambahkan sayap pada batu itu,” atau “Mari kita tempelkan beberapa fitur tambahan agar terlihat lebih bagus.”

Namun, Sang Pemahat tahu lebih baik. Dia tidak ingin menambahkan apa pun dari luar ke atas batu itu. Dia tahu bahwa di dalam bongkahan batu itu, sebuah mahakarya sudah ada di sana. Tugas-Nya bukanlah “memperbaiki’ batu itu menjadi sesuatu yang bukan dirinya; tugas-Nya adalah menyingkirkan serpihan-serpihan yang menempel dengan penuh kehati-hatian—rasa takut, rasa tidak aman, dan label-label duniawi—demi menyingkapkan wujud yang memang sudah ada di dalamnya sejak semula.

Ketika kita berkarya bersama kaum muda, kita tidak sedang berusaha mengubah DNA mereka. Kita sedang membantu mereka melepaskan lapisan-lapisan duniawi yang menyelimuti mereka, agar “karya ciptaan” yang telah dirancang Tuhan—bahkan sebelum mereka dilahirkan ke dunia—akhirnya dapat bernapas lega.

Banyak dari antara kita yang pernah membaca cerita tentang transformasi yang terjadi pada  Michelangelo dan mahakaryanya Patung “David.”

Sebelum menjelma menjadi salah satu patung paling termasyhur dalam sejarah, bongkahan batu pualam yang digunakan untuk patung “David” dikenal dengan julukan “Sang Raksasa” (The Giant). Batu itu telah teronggok di sebuah pelataran selama lebih dari 40 tahun. Dua pemahat lain sebelumnya sempat mencoba menggarapnya, namun mereka menyerah—dengan alasan bahwa batu itu “terlalu cacat” dan “tidak sempurna” untuk dapat digunakan. Mereka memandangnya sebagai bongkahan batu rusak yang tak mungkin diperbaiki.

 

Baca Juga: Menemukan Kedamaian di Dunia yang Berisik

 

Ketika Michelangelo menerima pekerjaan itu, ia tidak berusaha “memperbaiki” kekurangannya. Ia melontarkan sebuah kalimat yang sangat terkenal:

“Aku melihat sesosok malaikat di dalam bongkahan marmer itu, lalu aku memahatnya hingga ia terbebaskan.”

Ia memahami bahwa keindahan itu bukanlah sesuatu yang harus ia ciptakan—melainkan sesuatu yang harus ia bebaskan. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun memahat dan menyingkirkan segala sesuatu yang bukan merupakan sosok David.

Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri pada hari ini adalah bagaimana “Menerapkannya dalam Kehidupan Kita?”

Generasi muda kita sering kali ibarat bongkahan marmer yang telah disingkirkan itu. Dunia membisikkan kepada mereka bahwa mereka “cacat,” “berlebihan,” atau “kurang berharga.” Bahkan orang-orang dewasa yang bermaksud baik pun terkadang memperlakukan mereka layaknya sebuah “proyek” yang harus diperbaiki.

Namun, jika kita memandang mereka melalui lensa Efesus 2:10, kita akan melihat sebuah “karya agung.” Peran kita adalah:

• Kita harus bersedia untuk berhenti berusaha mengubah sebuah “tangan” menjadi sebuah “mata” (1 Korintus 12) dengan perkataan lain kita harus berhenti memperbaiki.

• Mohonlah kepada Tuhan agar Ia memperlihatkan kepada kita bentuk unik yang telah Ia anugerahkan kepada mereka agar kita dapat mempersiapkan mereka sesuai dengan rancangan Tuhan untuk mereka.

• Berikanlah kepada mereka Firman Tuhan, kasih, serta ruang yang mereka butuhkan agar Sang Pemahat Agung dapat menuntaskan karya-Nya – artinya kita harus menyediakan sarananya bagi mereka.

Ketika kita berhenti memaksakan mereka untuk masuk ke dalam cetakan kita sendiri, kita justru memberikan mereka kebebasan untuk menempati cetakan yang telah disiapkan oleh Tuhan bagi mereka.

 

Doa 

"Tuhan, bantulah aku memandang generasi muda dalam hidupku bukan sebagai masalah yang harus dipecahkan, melainkan sebagai karya agung yang sedang dalam proses penyempurnaan. Karuniakanlah kepadaku kesabaran untuk membantu mereka menyingkirkan segala kebohongan dunia, sehingga mereka dapat melihat bentuk indah yang telah Engkau rancangkan bagi mereka sejak semula. Amin.”

 

Hak cipta tulisan oleh Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD, Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

 

 

Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.

Halaman :
1

Ikuti Kami