Video viral di TikTok pada Februari 2026 kembali memantik perdebatan publik. Kali ini, sorotan mengarah pada konten yang diunggah oleh alumnus LPDP, Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas. Dalam video tersebut, Tyas memperlihatkan proses unboxing paspor dan dokumen kewarganegaraan Inggris milik anaknya.
Masalah muncul ketika ia melontarkan kalimat, “Cukup saya yang WNI, anak jangan.” Pernyataan ini sontak menuai kritik keras karena dianggap merendahkan kewarganegaraan Indonesia. Reaksi publik semakin kuat karena Tyas diketahui menempuh pendidikan di luar negeri melalui beasiswa negara dari LPDP, yang bersumber dari pajak masyarakat.
Bagi banyak warganet, persoalan ini bukan lagi sekadar soal pilihan kewarganegaraan, melainkan sikap dan nilai yang ditampilkan ke ruang publik. Apalagi, LPDP selama ini dipandang sebagai amanah negara untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter.
Sorotan kemudian meluas ke suami Tyas, Arya Iwantoro, yang juga merupakan penerima beasiswa LPDP. Pihak LPDP dikabarkan tengah memanggil Arya terkait dugaan belum tuntasnya kewajiban studi atau pengabdian di Indonesia. Situasi ini semakin mempertegas bahwa kasus tersebut menyentuh aspek tanggung jawab moral, bukan hanya personal.
Pemerintah pun angkat bicara. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyebut polemik ini sebagai kegagalan pendidikan moral. Pernyataan ini sejalan dengan nilai Alkitab yang menekankan bahwa pengetahuan tanpa karakter justru berbahaya.
Dalam Lukas 12:48, Yesus berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut.” Ayat ini relevan dengan konteks beasiswa negara. Hak istimewa besar selalu datang bersama tanggung jawab besar. Alkitab juga mengingatkan bahwa perkataan mencerminkan kondisi hati (Matius 12:34), dan ucapan yang keluar ke publik membawa dampak luas.
Kasus video viral LPDP ini akhirnya menjadi cermin bagi semua. Di era digital, satu kalimat bisa mengguncang kepercayaan publik. Dari sudut pandang iman, peristiwa ini mengajak setiap orang—terutama mereka yang diberi kepercayaan dan fasilitas untuk hidup dengan kerendahan hati, hikmat, dan rasa tanggung jawab.
Bukan soal paspor semata, melainkan soal bagaimana nilai, perkataan, dan sikap hidup kita dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com