Belajar dari Rut dan Boas, Eunike Tak Lagi Minder Karena Keluarganya Miskin
Sumber: Jawaban.com

Impact Story / 16 February 2026

Kalangan Sendiri

Belajar dari Rut dan Boas, Eunike Tak Lagi Minder Karena Keluarganya Miskin

Lori Official Writer
2236

Ada anak-anak yang tidak menangis keras ketika hatinya terluka. Mereka hanya diam dan merasa malu. Seperti Eunike, gadis kecil 9 tahun dari Desa Juhar, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang pernah memilih tidak pergi ke gereja—bukan karena tidak rindu Tuhan, tetapi karena tidak punya uang untuk kolekte.

Eunike atau akrab disapa Ike, siswi kelas 3 SD, adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayah dan ibunya bekerja sebagai buruh harian dan hanya punya sepetak ladang jagung. Hidup mereka sederhana, bahkan sering kali pas-pasan. Ketika musim kemarau panjang melanda desa mereka hingga tujuh bulan lamanya, mereka harus menanggung gagal panen sebanyak dua kali. Akibatnya, penghasilan keluarga pun terguncang.

Sebagai anak yang masih sangat belia, Eunike memang belum sepenuhnya mengerti tentang krisis ekonomi. Tetapi ia merasakan dampaknya. Ia tahu rasanya ketika teman-temannya jajan, sementara ia hanya bisa diam menatap. Ia rindu selalu ikut ibadah di gereja, tetapi kadang kala ia harus mengurungkan niatnya karena tidak punya uang persembahan. “Dulu sering enggak pergi… malu,” katanya pelan.

Rasa malu itu membuatnya menjadi pendiam dan minder. Saat meminta jajan dan ibunya berkata tidak ada uang, ia hanya ngambek dan memilih diam. Di hatinya ada pertanyaan yang tak terucap: "Kenapa hidup kami sulit?"

Namun perubahan mulai terjadi ketika Eunike belajar pelajaran karakter lewat Superbook di Sanggar Belajar School of Life (SOL) Juhar, Kabupaten Karo. Di sana, ia bukan hanya belajar Matematika, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Inggris, tetapi ditempa secara karakter dan kerohanian.

 

Baca Juga: Miliki Iman yang Berani Karena Belajar Firman di Sekolah Minggu

 

Belajar Dari Kisah Rut dan Boas

Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah kisah Rut dan Boas. Eunike tertegun saat mendengar bahwa Rut adalah seorang perempuan miskin yang hidupnya penuh penderitaan. Rut tidak punya apa-apa. Tetapi Tuhan tidak meninggalkannya. Melalui Boas, Tuhan memulihkan hidup Rut dan menjamin masa depannya. “Boas menebus Rut… Rutnya miskin. Tapi Tuhan tolong,” ujar Eunike.

Di momen itu, sesuatu berubah dalam hatinya. Ia mulai percaya bahwa kemiskinan bukan akhir cerita. Ia belajar bahwa Tuhan adalah Penebus—bukan hanya untuk Rut, tetapi juga untuk dirinya. “Ada Tuhan yang menjamin masa depan,” katanya mantap.

 

Rasa Percaya Diri yang Tumbuh Karena Iman

Sejak saat itu, sikap Eunike perlahan berubah. Ia tidak lagi suka ngambek atau merasa minder ketika tidak punya uang jajan. Ia tidak lagi malu datang ke gereja kalau orang tuanya sedang tidak punya uang. Ia justru memilih berdoa!

Saat ditanya, “Doanya gimana, Ike?” ia menjawab, “Tuhan Yesus, berikan orang tuaku rezeki dan kesehatan.”

Bukan saja berubah secara karakter, tutor School of Life mengaku menyaksikan bagaimana dia mengalami peningkatan prestasi sejak ikut sanggar belajar. “Sebelum masuk School of Life, Ike juara tiga besar. Setelah ikut di semester ganjil, pas kelas tiga, dia juara satu,” terang ibu Jois.

Ibunya, mama Ros Tarigan, ikut merasa bahagia menyaksikan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bukan saja punya keinginan besar untuk belajar. Tetapi secara rohani terus bertumbuh, terlihat dari bagaimana Ike berdoa dan disenangi banyak teman. “Eunike ini pendoa, jadi anak-anak suka sekali kawan sama dia. Dia juga tahu keadaan keluarga...jajan cuma di sekolah.” 

 

Baca Juga: Anak 9 Tahun Ikut Kristus Setelah Menonton Kisah-kisah Ini

 

Kondisi ekonomi keluarganya memang tidak berubah secara total. Mereka masih tetap harus memenuhi kebutuhan dari hari ke hari sesuai dengan pendapatan. Tetapi yang berubah adalah hati seorang anak. Kini ia tahu nilainya tidak ditentukan oleh uang jajan atau besar kecilnya persembahan. Ia tahu dirinya berharga di mata Tuhan.

Saat ditanya siapa pribadi yang selalu mengasihinya dalam kondisi apapun, Ike menjawab tanpa ragu, “Tuhan Yesus..”.

Dari seorang anak yang minder karena tidak punya uang, kini ia menjadi anak yang percaya bahwa Tuhan sanggup menyediakan. Seperti Rut yang ditebus, Eunike percaya hidupnya pun ada dalam rencana Tuhan yang indah.

Dan dari Desa Juhar yang sederhana, iman kecil itu sedang bertumbuh—menjadi harapan besar bagi masa depannya.

Ada banyak kisah anak lainnya yang mengalami transformasi yang sama seperti Eunike. Temukan kisah-kisah lainnya di website Superbook Indonesia, dengan klik di sini Super Story Superbook

Halaman :
1

Ikuti Kami