Sering Diejek “Takut Istri”? Balas dengan Pemahaman Ini
Sumber: Yan Krukau from Pexels

Marriage / 6 January 2026

Kalangan Sendiri

Sering Diejek “Takut Istri”? Balas dengan Pemahaman Ini

Claudia Jessica Official Writer
2073

Seiring berjalannya waktu, budaya kita terus berubah dan dipengaruhi oleh berbagai budaya asing dan gaya hidup baru. Tidak jarang, perubahan ini bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, salah satunya terlihat dari nilai kesetiaan dalam pernikahan yang kini semakin dianggap remeh, bahkan ditertawakan.

Seorang suami yang menghormati istrinya, justru seringkali dianggap “takut istri”. Padahal, cara pandang seperti ini bertentangan dengan nilai kebenaran yang diajarkan firman Tuhan.

Dalam salah satu khotbahnya, Pastor Henny Kristianus menyampaikan, “Menjadi seorang laki-laki yang mengerti komitmen dan menjadi kepala keluarga yang baik itu sebuah kehormatan.”

Ia menegaskan bahwa kesetiaan adalah bukti kedewasaan rohani, bukan sesuatu yang memalukan.

Kesetiaan Mencerminkan Karakter Seseorang

Dalam kehidupan sehari-hari, kesetiaan kita seringkali diuji. Ujiannya bukan hanya datang dari rumah, tetapi juga dari pergaulan dan dunia kerja.

Pastor Henny bahkan membagikan prinsip pribadinya saat hendak merekrut seseorang untuk bekerja. Hal pertama yang ia perhatikan adalah kehidupan rumah tangganya.

Katanya, “Kalau di rumah tangga saja tidak setia, bagaimana bisa setia dalam pekerjaan?”

Menurutnya, integritas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan pasangan hidupnya. Kesetiaan di rumah menjadi gambaran kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen dalam aspek kehidupan lainnya.

Kesetiaan Berawal dari Takut Akan Tuhan

Ps. Henny menekankan bahwa kesetiaan sejatinya berakar dari sikap takut akan Tuhan. “Kalau Anda suami yang setia, Anda bukan takut istri. Anda takut Tuhan,” katanya.

Komitmen pernikahan bukan sekadar janji antara dua manusia, tetapi perjanjian yang dibuat di hadapan Allah. Karena itu, kesetiaan bukan soal menjaga citra, melainkan soal ketaatan.

Godaan Menguji Komitmen

Godaan untuk berkompromi dengan kesetiaan itu sangat nyata. Terutama saat peluang bisnis, kesuksesan, relasi yang bagus datang dari cara yang keliru.

Namun Pastor Henny mengingatkan, “Anda bisa membuka jalan untuk bisnismu tanpa harus menghancurkan rumah tanggamu.” Keberhasilan sejati tidak pernah menuntut seseorang mengorbankan keluarganya demi pencapaian.

Kesetiaan bagi Keluarga

Ketidaksetiaan tidak hanya melukai pasangan, tetapi juga meninggalkan dampak jangka panjang bagi anak-anak.

“Mungkin istri bisa mengampuni, tapi rasa hormat dan kepercayaan anak-anak bisa hilang,” ujar Ps. Henny.

Luka seperti ini sering kali baru disadari ketika semuanya sudah terlambat.

Mengacu pada Amsal 11:29, Pastor Henny mengingatkan bahwa mengacaukan rumah tangga hanya akan berujung pada kehampaan. Karena itu, hanya karena dunia menganggapnya hebat, ketidaksetiaan bukanlah pencapaian yang patut dibanggakan.

Jalan keluar dari ketidaksetiaan bukanlah menutupinya dengan kecerdikan manusia, melainkan dengan pertobatan.

“Bukan pintar menutupi, tapi bertobat,” katanya dengan tegas.

Melalui pesan ini, kita diajak untuk kembali memandang kesetiaan dengan cara yang benar. Bukan sebagai beban atau bahan ejekan, tetapi sebagai kehormatan yang menjaga keutuhan keluarga dan memuliakan Tuhan.

Jika Anda sedang bergumul dengan kesetiaan dalam pernikahan atau menghadapi pergumulan pribadi yang sulit dibicarakan, Anda tidak sendirian. Ada harapan dan pertolongan di dalam Tuhan.

Layanan Doa CBN siap mendampingi Anda dengan penuh kasih. Jangan ragu untuk menghubungi Layanan Doa CBN di 0822-1500-2424. Bersama, kita percaya Tuhan sanggup memulihkan dan memberi kekuatan untuk melangkah kembali dalam kebenaran.

Sumber : Ps. Henny Kristianus
Halaman :
1

Ikuti Kami