Setiap kali Natal tiba, umat Kristen menyambutnya dengan penuh sukacita. Banyak dari kita mulai mengeluarkan hiasan Natal, mendekor rumah, kantor, dan berbagai tempat dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang meriah.
Tak lupa juga menyediakan makanan khas Natal seperti di kue nastar, putri salju, dan berbagai hidangan khas Natal lainnya yang menjadi menu favorit keluarga.
Dari luar, kita tampak merayakan kelahiran Natal dengan penuh sukacita. Tapi, terkadang kemeriahan itu justru membuat kita melupakan satu hal yang paling penting, yaitu kelahiran Yesus Kristus untuk menjadi karya penebusan terbesar bagi umat manusia.
Tidak masalah jika kita ingin menyambut Natal dengan meriah, tetapi jangan sampai kita melupakan esensi makna Natal yang paling penting itu sendiri. Untuk itu, kita bisa melakukan 3 cara berikut agar Yesus Kristus tetap menjadi pusat Natal tahun ini.
1. Mulai dengan Membaca Firman Tuhan
Banyak dari kita terlalu fokus untuk melakukan perayaan Natal dan menyibukkan diri dengan segudang persiapan yang perlu diperhatikan. Misalnya seperti memperhatikan penampilan, mempersiapkan makanan, mempersiapkan acara perayaan, hingga lupa untuk menyambut kelahiran Yesus.
Tahun ini, sebelum kita sibuk bersiap-siap merayakan Natal, mari ambil sedikit waktu untuk datang kepada-Nya, berdoa dan membaca Firman Tuhan. Dengan melakukan ini, kita mengingatkan diri kita sendiri alasan mengapa kita merayakan Natal.
Pikiran kita akan dipenuhi dengan kabar baik tentang sang Juruselamat dan berpegang teguh pada kebenaran bahwa suatu hari nanti, setiap orang yang percaya kepada Yesus akan bersama-Nya untuk selama-lamanya.
2. Renungkan Satu Ayat Selama Satu Bulan Desember
Ayat yang dipilih tidak harus berkaitan dengan Natal. Tapi pastikan ayat yang dipilih membantu Anda untuk tetap fokus pada Yesus Kristus.
Dengan memilih satu ayat untuk direnungkan selama sebulan akan membantu kita untuk fokus pada hal tersebut dan menanamkan kebenaran Firman-Nya ke dalam hati kita. Seiring waktu, rhema dari ayat tersebut akan menjadi bagian dari diri kita dan menuntun kehidupan kita.
3. Berkorban untuk Orang Lain
Seperti Yesus yang mengorbankan hidup-Nya agar kita, orang berdosa dan tidak layak di hadapan Allah bisa diselamatkan. Karya keselamatan yang Yesus Kristus berikan kepada kita adalah anugerah yang luar biasa, tetapi Ia harus mengorbankan nyawa-Nya.
Mengingat teladan tersebut, kita juga bisa menunjukkan kasih melalui tindakan berkorban.
Salah satu kisah yang menginspirasi datang dari sebuah keluarga yang mengambil keputusan tak biasa. Mereka memutuskan untuk tidak membeli hadiah Natal untuk diri mereka sendiri. Tidak ada sesi buka kado, tidak ada daftar keinginan. Sebaliknya, mereka menggunakan uang dan waktu yang biasanya dipakai untuk merayakan, untuk mengisi Natal orang lain.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa berkorban bukan sekadar memberi dari kelebihan, tetapi memberi dengan kesediaan melepaskan kenyamanan dan tradisi yang biasa kita nikmati. Ketika kita rela mengutamakan kebutuhan orang lain di atas keinginan pribadi, kita sedang meneladani kasih Kristus dan menjadikan Dia sebagai pusat Natal kita.
Pada akhirnya, Natal bukan hanya tentang perayaan, hiasan, atau tradisi yang meriah, tetapi tentang bagaimana kita mengarahkan hati untuk kembali kepada Sang Sumber Natal itu sendiri, Yesus Kristus.
Kiranya tahun ini kita dapat menyambut Natal dengan hati yang lebih fokus, lebih bersyukur, dan lebih dekat kepada Kristus, sehingga setiap tindakan kita mencerminkan kasih-Nya kepada dunia.
Sumber : Jawaban.com