3 Gaya Khotbah yang Dinilai Kurang Efektif Menjangkau Gen Z
Sumber: Canva Teams | Kasto

News / 14 July 2025

Kalangan Sendiri

3 Gaya Khotbah yang Dinilai Kurang Efektif Menjangkau Gen Z

Claudia Jessica Official Writer
7741

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z merupakan generasi yang unik dalam merespons hal-hal rohani, termasuk khotbah di gereja.

Meski terbuka terhadap spiritualitas, banyak dari mereka justru bersikap kritis terhadap cara penyampaian Firman Tuhan yang dirasa kurang relevan.

Sebuah studi dari Barna Group bersama Alpha USA menyebutkan bahwa Gen Z lebih tertarik pada pendekatan yang otentik, rendah hati, dan terbuka terhadap diskusi.

Mereka cenderung menghindari gaya berkhotbah yang terlalu otoriter, penuh jargon rohani, atau yang terasa memanipulasi emosi.

“Gen Z menghargai percakapan, bukan ceramah.”— Barna Group & Alpha USA, Gen Z & Evangelism

 

BACA JUGA: Alpha Youth Conference 2025: Menjangkau dan Memuridkan Generasi Z dengan Cara yang Relevan

 

Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z bukan tidak mau mendengar Firman Tuhan. Mereka justru ingin mengenal Tuhan lebih dalam, tetapi berharap disampaikan dalam cara yang bisa mereka pahami dan terhubung secara personal.

Berikut ini beberapa tipe penyampaian khotbah yang, menurut riset dan pengamatan, seringkali kurang efektif menjangkau generasi ini:

1. Stand-up Comedian Tanpa Arah

Gen Z memang menyukai humor yang bisa mencairkan suasana. Tapi, jika seluruh isi khotbah hanya diisi dengan jokes tanpa arah atau terlalu berlebihan sehingga menutupi pesan utama, hal ini bisa mengurangi penyampaian Firman Tuhan.

Mereka tidak datang beribadah untuk mendapatkan hiburan, melainkan untuk belajar memahami isi hati Tuhan. Jadi, jika isi khotbah lebih dominan apa humor, Gen Z merasa tidak mendapatkan apa-apa.

2. Suaranya Lantang, Tapi Pesannya Tidak Sampai

Suara yang lantang seringkali disalahartikan sebagai urapan Tuhan yang luar biasa. Tapi bagi Gen Z, suara lantang tidak menjadi tolak ukur seorang pengkhotbah.

Gen Z ingin pesan yang jelas, bukan sekedar energi kuat yang disampaikan lewat mimbar. Jika pesan inti tidak tersampaikan, besar kemungkinan mereka akan kehilangan minat.

 

BACA JUGA: Kalau Mau Gaet Generasi Z Jadi Target Market, Terapkan 5 Hal Ini Dalam Bisnismu

 

3. Pendekatan Emosional Berlebihan

Khotbah yang terlalu banyak memainkan sisi emosional seperti kisah sedih, tangisan, dan ilustrasi dramatis berisiko menimbulkan kesan manipulatif.

Gen Z bisa tersentuh secara perasaan, tapi mereka juga mencari kebenaran yang dibangun berdasarkan Firman Tuhan, bukan sekadar cerita yang menyentuh hati.

Penting untuk diingat bahwa temuan ini bukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan menjadi bahan refleksi bersama. Baik pengkhotbah maupun jemaat dari generasi muda diajak untuk saling memahami.

Gen Z perlu tetap terbuka terhadap pesan, meskipun cara penyampaiannya tidak selalu sesuai harapan. Di sisi lain, para pelayan Firman juga didorong untuk terus bertumbuh dan menyesuaikan pendekatan agar lebih kontekstual. 

Seiring dengan berkembangkan zaman, khotbah juga harus disampaikan dengan cara yang kontekstual dan relevan agar tidak ditinggalkan.

 

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami