"Didikan bapak saya sejak kecil itu keras sekali, jujur pada saat itu saya pernah merasa seperti anak tiri," ujar Edixon (27 tahun), mengawali kisahnya.
Tumbuh besar di daerah konflik membuat masa kecil Edixon menjadi begitu mencekam. Setiap hari, ia harus menyaksikan kerusuhan bahkan pembunuhan di hadapannya. Dalam kondisi tersebut, Edixon hanya dirawat sepenuhnya oleh ibunya karena ayahnya jarang berada di rumah.
Sang ayah terlibat langsung dalam konflik yang terjadi, sehingga perannya sebagai kepala keluarga terasa begitu minim. Ketidakhadiran sosok ayah dalam hidupnya membuat Edixon merasa terabaikan. Meski jarang di rumah, ayahnya dikenal sangat keras dalam mendidik, bahkan tak jarang menggunakan kekerasan fisik.
Pengalaman pahit masa kecil itu membekas dalam diri Edixon hingga dewasa. Terutama ketika ia mencoba menggapai cita-citanya sebagai seorang Tentara. Sayangnya, pada tes pertama, Edixon gagal. Kegagalan itu membuatnya merasa sangat terpukul.
BACA JUGA: Pernikahan 14 Tahun, Hampir Menyerah? Melaney Ricardo & Tyson Blak-blakan!
Dalam kondisi putus asa, ia memutuskan untuk pergi ke Jayapura menemui pamannya. Di sana, Edixon secara tidak sengaja menonton tayangan Solusi dan merasa tersentuh. Ia kemudian menghubungi Layanan Doa dan Konseling CBN melalui SMS.
Melalui percakapan tersebut, Edixon didoakan dan dikuatkan. Saat itulah pemahaman baru mulai muncul dalam hatinya. Ia menyadari bahwa didikan keras dari ayahnya dulu bukanlah bentuk kebencian, melainkan persiapan agar ia menjadi pribadi yang kuat. Perlahan, Edixon mulai mengerti bahwa Tuhan punya rencana indah di balik semua peristiwa itu.
Dengan tekad untuk memperbaiki hubungan, Edixon memutuskan pulang dan menemui ayahnya. Percakapan mereka menjadi momen yang mengubah segalanya.
Sang ayah mengingatkan Edixon tentang cita-citanya dahulu untuk menjadi Tentara Tamtama, sementara tes yang sebelumnya diikuti adalah untuk Tentara Bintara. Kesadaran itu membangkitkan kembali semangat Edixon. Ia pun mendaftar dan mengikuti seleksi Tentara Tamtama dengan penuh keyakinan. Hingga akhirnya, hasil seleksi menunjukkan bahwa ia lolos.
"Waktu kita muda, rasanya seperti ditekan oleh orang tua. Tapi ternyata orang tua mau anak-anaknya mendapatkan yang terbaik. Termasuk yang dilakukan oleh ayah saya waktu kecil. Ayah saya tahu kalau saya mau jadi tentara, maka dia mendidik saya dengan keras, sama seperti pendidikan tentara yang saya jalani. Jadi saya tidak kaget lagi, karena ayah saya sudah mempersiapkan saya. Saya yakin ini juga rencana Tuhan dalam hidup saya. Pemulihan dengan ayah saya, menjadi jalan menuju cita-cita saya," ungkap Edixon dengan haru.
Kini, Layanan Doa dan Konseling CBN masih setia menjadi sahabat yang mendoakan Edixon dan keluarganya. Bagi Edixon, dukungan itu sangat berarti.
Edixon juga berpesan kepada anak-anak muda agar tetap menghormati orang tua, apa pun yang terjadi. Kebencian atau dendam hanya akan membuat hati semakin jauh dari kebaikan.
"Semoga Layanan Doa dan Konseling CBN dapat terus menjadi wadah berkat dan selalu mendoakan banyak orang di luar sana yang membutuhkan pertolongan," tutup Edixon penuh harap.
Melalui Layanan Doa dan Konseling CBN, kami telah banyak melayani responden yang bergumul tentang masalah keluarga dengan mendoakan dan memberikan konseling gratis. Kami mengajak Anda menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menopang Layanan Doa dan Konseling CBN agar dapat terus melayani lebih banyak reponden di luar sana yang membutuhkan dukungan doa dan konseling dengan cara
Sumber : Jawaban.com