Melepaskan Anak Menuju Pernikahan, Haruskah Orang Tua Menjadi Posesif?
Sumber: Canva.com

Parenting / 15 March 2024

Kalangan Sendiri

Melepaskan Anak Menuju Pernikahan, Haruskah Orang Tua Menjadi Posesif?

Aprita L Ekanaru Official Writer
495

Pernikahan merupakan momen sakral dan penuh makna. Melepaskan anak untuk menikah merupakan salah satu babak terberat dalam hidup orang tua. Di satu sisi, orang tua merasa bahagia melihat anaknya menemukan kebahagiaannya. Di sisi lain, ada rasa kehilangan dan kekhawatiran akan masa depan anak.

Sebagai orang tua Kristen, melepaskan anak menuju pernikahan tidak hanya tentang melepaskan ikatan fisik, tetapi juga melepaskan tanggung jawab dan menyerahkan anak kepada pasangannya. Di sinilah peran penting orang tua untuk mempersiapkan diri dan anak dengan baik dalam menghadapi pernikahan. Jangan menjadi orang tua yang posesif, sebaliknya lakukanlah hal-hal ini saat mengantar anak menuju ke pernikahan:

1. Mendoakan dan Memberkati Anak

Doa merupakan senjata orang tua yang paling kuat. Doakanlah agar pernikahan anak diberkati Tuhan dan dilandaskan pada kasih, iman, dan komitmen. Berikanlah restu dan dukungan penuh kepada anak untuk menjalani bahtera rumah tangga.

2. Memberikan Pendidikan dan Nasihat yang Tepat

Sejak kecil, Anda telah menanamkan nilai-nilai Kristiani dan mengajarkan anak tentang arti pernikahan yang sesungguhnya. Bekali anak dengan pengetahuan tentang kehidupan pernikahan, komunikasi yang baik, dan bagaimana menyelesaikan konflik. Berikan nasihat yang bijaksana berdasarkan pengalaman hidup Anda.

3. Membuka Ruang Komunikasi yang Terbuka

Bangunlah hubungan yang terbuka dan komunikasi yang baik dengan anak. Dengarkan keluh kesah dan kekhawatiran anak tentang pernikahan. Berikan ruang bagi anak untuk bertanya dan mendapatkan solusi dari Anda.

4. Menghormati Keputusan dan Pilihan Anak

Pernikahan adalah tentang dua orang yang memutuskan untuk bersatu. Orang tua perlu menghormati keputusan dan pilihan anak dalam memilih pasangan hidup. Hindari memaksakan kehendak atau mencampuri urusan pernikahan anak terlalu berlebihan.

5. Mempercayai Kemampuan dan Kedewasaan Anak

Percayalah bahwa anak sudah cukup dewasa dan mampu untuk bertanggung jawab atas pernikahannya. Berikan anak kepercayaan untuk memimpin rumah tangga dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

6. Menjadi Pendukung dan Memotivasi

Pernikahan bukan akhir dari peran orang tua. Tetaplah menjadi supporter dan motivator bagi anak dalam menjalani kehidupan pernikahannya. Berikan dukungan moral dan semangat saat anak menghadapi tantangan dalam rumah tangganya.

7. Menerima Kekurangan dan Kelemahan Anak

Tidak ada manusia yang sempurna. Orang tua perlu menerima kekurangan dan kelemahan anak, termasuk dalam pernikahannya. Bantulah anak untuk belajar dari kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik.

8. Menjaga Hubungan yang Baik dengan Menantu

Menantu merupakan bagian dari keluarga. Bangunlah hubungan yang baik dan saling menghormati dengan menantu. Bantulah anak dan menantu untuk saling beradaptasi dan membangun keluarga yang harmonis.

9. Bersabar dan Mengasihi

Menjalani pernikahan tidak selalu mudah. Orang tua perlu bersabar dan mengasihi anak dan menantu saat mereka menghadapi berbagai permasalahan dalam rumah tangga. Berikanlah solusi dan nasihat dengan penuh kasih dan pengertian.

10. Tetap Menjadi Teladan yang Baik

Orang tua adalah contoh bagi anak-anaknya. Tunjukkanlah kasih sayang, komitmen, dan kesetiaan dalam pernikahan Anda. Menjadilah teladan yang baik bagi anak dalam membangun rumah tangga yang bahagia dan langgeng.

Melepaskan anak menuju pernikahan merupakan proses yang penuh dengan emosi dan tantangan. Dengan persiapan yang matang, komunikasi yang terbuka, dan dukungan penuh dari orang tua, anak akan lebih siap untuk menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia. Ingatlah bahwa pernikahan adalah anugerah Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan memimpin pernikahan anak Anda.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami