Jelang Pemilu 2024, Gerakan Nurani Bangsa Mendorong Perubahan Positif Indonesia
Sumber: Website PGI

News / 12 February 2024

Kalangan Sendiri

Jelang Pemilu 2024, Gerakan Nurani Bangsa Mendorong Perubahan Positif Indonesia

Aprita L Ekanaru Official Writer
1519

Jajaran tokoh bangsa dan agama yang berada dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menyampaikan keyakinan akan pentingnya merawat bangsa dan negara Indonesia, terutama dalam momen transisi kepemimpinan seperti Pemilu 2024. Dalam konferensi pers di Grha Oikumene, Jakarta, Sabtu (10/2/2024), para tokoh GNB menegaskan komitmennya untuk menjadi garda terdepan dalam mewujudkan visi Indonesia yang lebih baik.

GNB, yang diprakarsai oleh para tokoh bangsa dan agama, bertujuan menjadi tonggak moral yang membimbing arah bangsa ke arah keadilan dan kesejahteraan. Mereka menegaskan pentingnya memelihara nilai-nilai luhur dan membangkitkan kesadaran kolektif akan tanggung jawab bersama dalam memajukan Indonesia.

Dalam suasana politik yang penuh tantangan, GNB berdiri teguh sebagai penjaga nurani bangsa, mengingatkan semua pihak akan pentingnya memprioritaskan kepentingan nasional di atas segala kepentingan individu atau kelompok. Dengan semangat tersebut, GNB siap berperan aktif dalam mendorong perubahan positif untuk Indonesia yang lebih maju dan berkeadilan.

Beberapa tokoh yang tergabung dalam GNB ini antara lain: Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Muhammad Quraish Shihab, Ahmad Mustofa Bisri, Kardinal Ignatius Suharyo, Gomar Gultom, Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera, AA Yewangoe, Omi Komaria Nurcholish Madjid, Karlina Supelli, Makarim Wibisono, Sayyid Muhammad Hilal Al Aidid, Slamet Rahardjo, Komaruddin Hidayat, Amin Abdullah, Erry Riyana Hardjapamekas, Frans Magnis Suseno, Ery Seda Jacky Manuputty, Laode M. Syarief, Setyo Wibowo, Lukman Hakim Saifuddin dan Alissa Wahid.

 

GNB sendiri telah menyelenggarakan berbagai kegiatan :

1. Kunjungan Sesepuh ke Wapres RI, Presiden RI ke-6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres RI ke-10 dan ke-12 Bapak Jusuf Kalla.

2. Kunjungan ke Penyelenggara Pemilu: KPU dan Bawaslu.

3. Pertemuan dengan para Pimred Media Massa.

4. Pertemuan dengan berbagai Inisiatif Pengawasan Pemilu dari Masyarakat Sipil.

5. Forum Titik Temu Orang Muda.

 

Dari serangkaian kegiatan di atas, GNB mencatat hal-hal berikut ini.

1. GNB melihat Pemilu 2024 sebagai tahap penting dalam perjalanan demokratis Indonesia. Mereka menekankan pentingnya legalitas dan legitimasi untuk pemimpin yang terpilih, mengajak seluruh elemen bangsa untuk memandangnya dalam perspektif jangka panjang.

2. GNB menekankan pentingnya penyelenggaraan Pemilu 2024 yang bersih, jujur, adil, dan bermartabat untuk mendapatkan legitimasi rakyat. Namun, masalah etika moral dan teknis telah menjadi sorotan publik saat ini.

3. Persoalan etika di Mahkamah Konstitusi dan KPU mempengaruhi kepercayaan publik pada Pemilu 2024. Ini terkait dengan nilai-nilai fundamental kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Pernyataan dan tindakan Presiden terkait Pemilu 2024 menjadi perhatian besar. Kritik dari kalangan akademisi menyoroti isu etika moral dan keterlibatan Presiden dalam kampanye. Sejarah menunjukkan peran penting akademisi dalam perubahan politik Indonesia.

5. Indikasi pelanggaran kampanye Pemilu 2024 muncul di media massa dan sosial, tetapi banyak yang tidak terselesaikan dengan baik. Beberapa kasus diselesaikan dengan keputusan yang kontroversial karena regulasi yang lemah.

Contohnya, seseorang 'ditokohkan' sebagai penyiar agama yang membagikan uang dalam acara pengajian. Juga terdapat dugaan pelanggaran netralitas ASN dan etika pejabat dalam pembagian bansos.

6. Komitmen dan profesionalisme Penyelenggara Pemilu krusial untuk kesuksesan Pemilu 2024. Pelanggaran etika terhadap KPU oleh DKPP harus menjadi polemik terakhir.

Sebagai lembaga independen, KPU harus memastikan Pemilu 2024 berjalan transparan, bersih, jujur, dan adil. Bawaslu, sebagai pengawas Pemilu, harus bertindak sungguh-sungguh, kuat, dan independen. Harapan masyarakat kepada Bawaslu harus diterima sebagai amanah serius yang tidak boleh dianggap enteng.

7. Sebagai Kepala Negara RI, tanggungjawab Presiden dalam mengawal keadaban Pemilu 2024 krusial. Integritasnya, baik sikap maupun keputusan, menjadi kunci.

Presiden juga mengatur TNI dan POLRI menjaga ketertiban serta keamanan dalam koridor keadilan. Netralitas aparatur sipil negara perlu dijaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang di tengah masyarakat. Presiden memegang peranan penting dalam menjaga proses Pemilu yang adil dan terhormat.

8. Partisipasi masyarakat meningkat di Pemilu 2024, mencerminkan pemahaman yang lebih dalam akan demokrasi. Digitalisasi memperluas akses informasi bagi warga, memperkuat peran mereka sebagai sumber dan pengonfirmasi data. Keterlibatan ini krusial untuk kesuksesan Pemilu 2024.

Sumber : Website PGI
Halaman :
1

Ikuti Kami