Bukan Hanya Yesus, 2 Tokoh Alkitab Ini Juga Jalani Puasa 40 Hari
Sumber: Leonardo.ai

Fakta Alkitab / 5 February 2024

Kalangan Sendiri

Bukan Hanya Yesus, 2 Tokoh Alkitab Ini Juga Jalani Puasa 40 Hari

Puji Astuti Official Writer
2751

Puasa dalam jangka waktu panjang bukan hal asing bagi kita, tapi dalam melakukannya kita juga harus bijaksana dan memperhatikan aspek kesehatan. Jangan sampai kejadian seperti di Afrika pada Februari 2023 lalu, dimana seorang pendeta mati setelah melakukan puasa selama 40 hari. 

Memang puasa selama 40 hari, yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Namun dalam menjalankannya kita perlu tahu alasan dan cara yang benar dalam melakukannya.  

Tapi tahukah Anda bahwa di Alkitab ada beberapa tokoh Alkitab yang menjalankan puasa 40 hari selain Yesus? Siapa mereka dan mengapa puasa 40 hari dilakukan?  

Mari simak Fakta Alkitab ini.  

Musa Puasa 40 Hari Sebanyak 3 Kali 

Selain Tuhan Yesus Kristus yang melakukan puasa selama 40 hari, ternyata Musa dan Elia dicatat Alkitab melakukan hal yang sama. Mengapa mereka melakukan puasa selama itu? 

Dalam Keluaran 24 diceritakan Tuhan memanggil Musa menghadap naik ke Gunung Sinai, dan ia disana bercakap-cakap dengan Tuhan serta menerima 10 Perintah Allah yang ditulis dalam 2 loh batu. Namun kedua loh batu tersebut ia pecahkan karena marah dengan bangsa Israel menyembah lembuh emas.  

Dalam Ulangan 9:18 dikatakan bahwa, “Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali--roti tidak kumakan dan air tidak kuminum --karena segala dosa yang telah kamu perbuat,   yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya.” 

Para ahli Alkitab percaya, bahwa Musa merujuk bahwa saat bertemu dengan Tuhan di Keluaran 24, ia pun berpuasa selama 40 hari. Setelah itu dalam Keluaran 34:1-4 mencatat bahwa Musa kembali berpuasa saat menuliskan 10 Perintah Allah dalam loh batu yang baru. Jadi, total Musa melakukan 3 kali puasa 40 hari berturut-turut.  

Elia Berpuasa 40 Hari Sambil Mendaki Gunung Horeb 

Saat Elia diancam akan dibunuh oleh Ratu Izebel, ia pergi ke padang gurun dalam keadaan putus asa. Dalam kondisi itu, ia bersandari di sebuah pohon arar sambil mengungkapkan isi hatinya pada Tuhan. Tak disangka-sangka, seorang malaikat Tuhan datang memberinya roti bakar dan kendi berisi air. Elia diperintahkan untuk makan dan minum kemudian pergi naik ke Gunung Horeb, dan berjalan selama 40 hari dan 40 malam sambil berpuasa (1 Raja-raja 19:1-18). Di Gunung Horeb itulah Elia mengdengar suara Tuhan, mendapatkan nubuatan dan juga petunjuk tentang siapa yang akan meneruskan jabatannya sebagai nabi.  

Yang menarik, Gunung Sinai dimana Musa menerima 10 Hukum Allah dan Gunung Horeb tempat Tuhan berbicara kepada Elia, dipercaya oleh para ahli Alkitab adalah lokasi yang sama.  

BACA JUGA:

Yom Kippur, Hari Paling Suci Oleh Yahudi yang Dirayakan Dengan Doa dan Puasa

Mengapa Puasa Yesus di Padang Gurun Menjadi Refleksi Penting dalam Perayaan Paskah?

Yesus Puasa 40 Hari  

Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus sendiri juga berpuasa selama 40 hari di padang gurun sebelum memulai pelayanan-Nya (Matius 4:1-2). Pengalaman ini juga menjadi persiapan rohani bagi-Nya, karena setelah puasa 40 hari tersebut Iblis datang untuk mencobai Yesus.  

Peristiwa Yesus berpuasa 40 hari terjadi setelah Ia dibabtis oleh Yohanes Pembabtis. Saat itu Ia berada di Sungai Yordan dan pergi ke wilayah padang gurun Yudea, para biarawan Kristen percaya bahwa lokasi dimana Yesus berpuasa berada di wilayah pegunungan berbatu dimana terdapat gua-gua.  

Dalam puasa 40 hari tersebut, Yesus Kristus mematahkan semua pencobaan si Iblis dengan kebenaran firman Tuhan (Lukas 4:1-13).  

Mengapa Puasa 40 Hari Penting Bagi Umat Kristen 

Puasa bagi umat Kristen bukanlah sesuatu yang diwajibkan, namun sebuah tindakan yang kita lakukan dengan kerelaan hati dan juga bentuk merendahkan hati serta mengosongkan diri. Beberapa kelompok Kristen masih melakukan puasa 40 hari dengan taat setiap tahunnya menjelang Paskah. Hal tersebut bukan dilakukan karena tradisi saja, namun karena beberapa alasan yang kuat.   

Pertama, puasa 40 hari adalah sebuah bentuk merendahkan hati, dan menyalibkan kedagingan yang menuntut kedisiplinan dan ketekunan spiritual. Dalam Alkitab, puasa ini sering kali dihubungkan dengan persiapan rohani  sebelum memulai suatu tugas atau misi yang diberikan oleh Allah. Dalam kehidupan kita saat ini, hal yang sama juga berlaku, ketika kita merendahkan hati di hadapan Tuhan, mempersilahkan Tuhan bekerja dalam kehidupan kita.  

Kedua, puasa 40 hari menjadi momen untuk mengeksplorasi hubungan yang lebih dalam dengan Allah. Kita bisa belajar dari para tokoh Alkitab yang berjumpa dengan Tuhan secara, baik melalui penglihatan, pengalaman rohani, maupun penerimaan petunjuk langsung dari-Nya. 

Ketiga, puasa 40 hari juga menjadi bentuk pertobatan. Dalam kasus Musa, puasanya merupakan wujud kesungguhan dalam memohon pengampunan bagi bangsa Israel yang berdosa. Bagi Elia, puasanya mengarah pada penyembuhan dan pemulihan dari kelelahan dan keputusasaan. 

Dengan demikian, puasa 40 hari bukan hanya sekadar praktik fisik berpantang makan dan minum saja, tetapi juga merupakan perjalanan rohani yang mendalam untuk bergaul dengan Tuhan. Tentunya puasa dalam jangka waktu panjang perlu dilakukan dengan bijaksana, dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan. Sebab yang Tuhan harapkan dari kita bukan hanya sekedar puasa atau ritual agama, tapi belas kasihan bagi sesama (Yesaya 58:4-5). Tuhan memberkati.  

Sumber : Puji Astuti | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami