Banyak Anak: Banyak Rejeki atau Banyak Pengeluaran?
Sumber: canva.com

Finance / 22 January 2024

Kalangan Sendiri

Banyak Anak: Banyak Rejeki atau Banyak Pengeluaran?

Claudia Jessica Official Writer
698

“Banyak anak, Banyak rezeki.”

Sebuah ungkapan yang telah mendarah daging dalam kebudayaan masyarakat, terutama di zaman dulu. Tetapi kemudian menjadi sebuah pertanyaan, “Apakah anggapan ini masih relevan di tengah kondisi modern saat ini?” Mari kita telaah bersama, terutama dari perspektif biaya yang harus dihadapi keluarga.

Dulu, anggapan “Banyak anak, Banyak rezeki” mungkin memiliki relevansi, terutama dalam masyarakat agraris di mana keberadaan anak-anak dianggap sebagai aset yang akan membantu pekerjaan di ladang dan memberikan dukungan di masa tua. Namun, dalam era modern dengan tuntutan dan biaya hidup yang semakin tinggi, apakah anggapan ini masih sesuai?

 

BACA JUGA: Mengapa Banyak Anak Muda Jadi Agnostik dan Ateis?

 

Butuh Perencanaan Keuangan

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa merencanakan kehadiran anak membutuhkan perencanaan keuangan yang matang. Tidak hanya biaya melahirkan, tetapi juga pendidikan, uang jajan, hingga gaya hidup anak perlu dipertimbangkan. Beruntungnya, proses ini tidak memerlukan pengeluaran besar dalam satu waktu. Pasangan memiliki cukup waktu untuk membangun tabungan dan meningkatkan penghasilan seiring dengan pertumbuhan karir atau bisnis mereka.

“Banyak anak, Banyak rezeki” Bisa Menjadi Motivasi Tersendiri

Namun, mengenai kepercayaan “Banyak anak banyak rezeki,” banyak orang masih memegang teguh anggapan ini. Beberapa orang berpendapat bahwa ketika dalam keadaan terdesak membutuhkan uang, hal tersebut menjadi dorongan untuk bekerja lebih keras dalam menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

 

BACA JUGA: Saat Banyak Anak Kehilangan Figur Ayah, Alkitab Tulis 5 Sosok Ayah Terbaik. Siapa Mereka?

 

“Banyak anak, Banyak rezeki” Mitos atau Fakta?

Namun, apakah anggapan ini hanya sebatas mitos ataukah ada fakta di baliknya? Keberadaan anak-anak, secara logika, menambah beban keuangan keluarga. Mereka memerlukan pendidikan yang memadai, perawatan kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari. Tetapi di sinilah muncul paradoks: Meskipun menambah beban finansial, kehadiran anak-anak juga dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan penghasilan.

Pada akhirnya, manusia cenderung mencari jalan keluar dari masalah dan mencapai tujuan mereka. Keinginan untuk memberikan kebahagiaan kepada keluarga dan anak-anak bisa menjadi sumber motivasi yang kuat. Orang tua yang peduli dengan masa depan anak-anak mereka mungkin akan bekerja lebih keras, mencari peluang tambahan, atau bahkan merencanakan investasi untuk menjamin masa depan yang lebih baik.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, anggapan “Banyak anak, banyak rezeki” mungkin terdengar seperti mitos dalam kehidupan modern, tetapi keadaan ini dapat memberikan motivasi kepada seseorang untuk bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

BACA JUGA: 5 Penyebab Banyak Anak Menolak Ikut Keyakinan Orangtuanya

 

Setiap keluarga memiliki dinamika dan pertimbangan unik, sehingga keputusan untuk memiliki anak atau seberapa banyak anak yang diinginkan menjadi pilihan pribadi bersama pasangan.

Namun satu hal yang pasti bagi kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya. Seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Dengan iman percaya, kita yakin bahwa Tuhan akan memelihara kehidupan umat-Nya.

 

BACA JUGA: Ingin Banyak Anak itu Alkitabiah, Tetapi 3 Hal Ini Perlu Dipertimbangkan Agar Tak Menyesal

 

Sumber : jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami