Ini Cara Membuat Batasan Hubungan yang Sehat dalam Pernikahan Kristen
Sumber: genpi.co

Marriage / 12 January 2024

Kalangan Sendiri

Ini Cara Membuat Batasan Hubungan yang Sehat dalam Pernikahan Kristen

Puji Astuti Official Writer
702

Pernikahan sering kali diibaratkan sebagai perjalanan hidup bersama yang membutuhkan kerja keras, pengertian, dan komitmen. Dalam menjalani pernikahan, penting untuk memahami dan menerapkan batasan yang sehat sebagai fondasi hubungan yang kuat. Dalam konteks Kristen, konsep batasan yang sehat tidak hanya dilihat sebagai suatu kewajaran, tetapi juga sebagai cara untuk mencerminkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. 

Apa itu Batasan Hubungan yang Sehat dalam Pernikahan? 

Batasan yang sehat dalam pernikahan merujuk pada aturan atau pembatasan yang dibuat oleh suami dan istri untuk membentuk dan menjaga kesehatan hubungan mereka. Ini mencakup berbagai aspek, mulai dari komunikasi hingga tanggung jawab, yang diarahkan untuk menciptakan suatu hubungan yang saling menghormati dan memastikan keberlanjutan perkawinan dengan penuh kasih. 

Sebagai contoh, batasan fisik dapat mencakup pengaturan privasi dan penggunaan ruang bersama. Batasan emosional melibatkan pengakuan dan penghormatan terhadap perasaan satu sama lain. Selain itu, batasan keuangan dan waktu dapat membantu mengelola tanggung jawab dan prioritas dalam kehidupan sehari-hari. 

Mengapa Orang Kristen Perlu Membuat Batasan Hubungan dalam Pernikahan 

Penting bagi pasangan Kristen untuk memahami bahwa pembuatan batasan dalam pernikahan bukanlah bentuk ketidakpercayaan atau ketidaksetiaan, melainkan langkah proaktif untuk menjaga kesehatan dan keutuhan hubungan. Beberapa alasan mengapa batasan diperlukan dalam konteks kekristenan meliputi: 

1. Mencerminkan Kasih Kristus. 

Pembuatan batasan yang sehat mencerminkan kasih Kristus dalam hubungan pernikahan. Karena kasih Kristus memberikan tuntunan untuk mengasihi dan menghormati satu sama lain, dan batasan membantu mewujudkannya dalam praktik sehari-hari. 

2. Mendukung Keseimbangan Keluarga.  

Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tuntutan, batasan membantu menciptakan keseimbangan antara kehidupan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Ini melibatkan penentuan prioritas dan pengaturan waktu dengan bijak, sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. 

3. Menghindari Percampuran Prioritas. 

Membuat batasan membantu menghindari percampuran prioritas yang dapat terjadi jika suami dan istri tidak setuju atau tidak memiliki pemahaman yang jelas mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, dalam konteks pernikahan, pencampuran prioritas dapat terjadi jika tanggung jawab pekerjaan mengganggu waktu berkualitas bersama pasangan. Begitu juga, jika urusan keuangan tidak diatur dengan baik, hal ini dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan. 

BACA JUGA: 

5 Cara Mengatasi Omongan Saudara Ipar dengan Bijak dan Dewasa

Ibu yang Bahagia, Jadi Kunci Kebahagiaan Seluruh Keluarga. Benarkah?

4. Memastikan Tanggung Jawab Bersama. 

Batasan membantu dalam menetapkan tanggung jawab bersama di dalam keluarga. Dengan menetapkan aturan dan pembatasan, pasangan dapat merencanakan dan menjalankan tanggung jawab mereka secara lebih efektif. 

5. Menjaga Kesehatan Emosional. 

Batasan yang jelas membantu menjaga kesehatan emosional. Dalam hubungan yang sehat, setiap pasangan perlu merasa dihargai, didengar, dan dapat menjalani kehidupan dengan keseimbangan emosional. 

Pandangan Alkitab tentang Membuat Batasan Hubungan antara Suami-Isteri 

Walaupun Alkitab tidak memberikan petunjuk khusus tentang bagaimana membuat batasan dalam pernikahan, prinsip-prinsip umum dapat diidentifikasi yang mencerminkan nilai-nilai Kristen. Beberapa prinsip ini termasuk: 

1. Keterbukaan dan Kejujuran. 

Alkitab mengajarkan dan mendorong kita untuk hidup dalam keterbukaan dan kejujuran (Efesus 4:25). Membuat batasan yang jelas melibatkan komunikasi yang terbuka tentang kebutuhan, harapan, dan keinginan masing-masing pasangan. 

2. Penghargaan terhadap Pasangan. 

Pasangan Kristen dihimbau untuk menghargai satu sama lain (Efesus 5:33). Pembuatan batasan yang sehat mencerminkan penghargaan terhadap kebutuhan dan batasan pasangan. 

3. Keseimbangan Tanggung Jawab. 

Dalam Efesus 5:22-33 memberikan panduan tentang tanggung jawab masing-masing pasangan. Pembuatan batasan membantu dalam menetapkan keseimbangan dalam pembagian tanggung jawab dalam pernikahan. 

4. Kasih dan Pengertian. 

Prinsip utama dalam Alkitab adalah kasih (1 Korintus 13). Membuat batasan yang sehat mencakup saling mengasihi satu sama lain dan mencoba mengerti sudut pandang dari pasangan. Hal ini melibatkan untuk menjadikan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.  

5. Mengelola Konflik dengan Bijak. 

Alkitab memberikan petunjuk mengenai penyelesaian konflik dengan bijak (Matius 18:15-17). Membuat batasan membantu dalam mengelola konflik dengan menerapkan kebenaran tersebut, sehingga dapat menjaga agar setiap masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan penuh kasih.  

Dalam semua hal ini, penting untuk diingat bahwa pembuatan batasan harus dilakukan melalui diskusi, doa, dan komitmen bersama. Pasangan Kristen perlu membuka diri terhadap kebutuhan dan harapan satu sama lain, dengan tekad untuk menciptakan lingkungan pernikahan yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani. 

Dengan menjalankan prinsip-prinsip ini, pasangan Kristen dapat mengembangkan batasan yang sehat dalam pernikahan mereka, menciptakan pondasi yang kokoh untuk membangun hubungan yang langgeng, penuh kasih, dan memuliakan Tuhan. Membuat batasan yang sehat tidak hanya menguntungkan pasangan itu sendiri, tetapi juga dapat menjadi kesaksian yang positif dalam dunia yang semakin hari kasih menjadi semakin dingin, bahkan dalam pernikahan.  

Apakah Anda memiliki pertanyaan tentang pernikahan atau pergumulan keluarga dan ingin didoakan? Mari hubungi kami di Layanan Doa dan Konseling CBN dengan KLIK DISINI. Kami rindu berdoa dan menguatkan Anda. 

Sumber : Jawaban | Puji Astuti
Halaman :
1

Ikuti Kami