Memahami Standar Tuhan Mengenai Perceraian dan Menikah Lagi dengan 3 Prinsip Penting yang Harus Diketahui
Sumber: canva.com

Relationship / 23 May 2023

Kalangan Sendiri

Memahami Standar Tuhan Mengenai Perceraian dan Menikah Lagi dengan 3 Prinsip Penting yang Harus Diketahui

Wisnu Prianggani Contributor
1754

Perceraian dan menikah lagi adalah sebuah topik yang dapat kita sepakati sebagai suatu hal yang rumit dan sensitif di dalam kehidupan ini. Maka dari itu, penting bagi kita untuk dapat mencari pandangan yang tepat mengenai hal ini. Jika kita mau melihat topik ini dalam pandangan Tuhan, sebenarnya Dia memberikan penjelasan yang sangat jelas melalui Alkitab. Apa saja yang Alkitab jelaskan?

Berikut adalah tiga poin penting yang menjelaskan apa yang Tuhan katakan tentang perceraian dan menikah lagi.

Pertama, Tuhan membenci perceraian dan tidak menginginkannya terjadi. Namun, karena adanya keras hati manusia yang berdosa, Tuhan bisa saja mengizinkan perceraian terjadi (Matius 19:7-9). Meskipun bukanlah kehendak-Nya yang sempurna, Tuhan memberikan ketentuan-ketentuan yang terdefinisi dengan baik dalam Kitab Suci tentang perceraian. Penting untuk diingat bahwa perceraian bukanlah dosa yang tidak dapat diampuni. Oleh karena itu, setiap pasangan suami dan istri membutuhkan bantuan yang baik seperti konseling untuk pemulihan setelah kekecewaan dan kerusakan yang disebabkan oleh masalah perceraian.

 

Baca Juga: Pentingnya Konseling Pernikahan untuk Menyelamatkan Pernikahan yang Sedang Terancam Perceraian

 

Kedua, Tuhan tidak menghendaki perceraian antara dua orang yang percaya dalam setiap keadaan. Tidak ada ketentuan dalam Kitab Suci yang mengizinkan dua orang yang percaya bercerai. Hal ini karena, ketika seorang Kristen yang sejati mengalami kegagalan atau berbuat dosa dalam pernikahannya, ia akan bertobat dan mencari rekonsiliasi karena kasihnya terhadap Kristus. Suami dan istri yang percaya harus saling mencintai dalam kasih mereka terhadap Kristus. Penolakan untuk melakukannya menunjukkan bahwa cinta Kristus tidak ada dalam mereka dan keselamatan mereka perlu dipertanyakan.

Ketiga, jika satu pihak adalah seorang percaya dan pihak lainnya bukan, perceraian hanya diperbolehkan dalam dua kondisi (1 Korintus 7:10-17). Pertama, jika pihak yang tidak percaya tidak ingin tinggal dalam pernikahan dan meninggalkan pihak yang percaya. Pihak yang ditinggalkan diperbolehkan untuk menikah lagi, tetapi hanya dengan syarat menikah dalam Tuhan. Kedua, jika pihak yang tidak percaya melakukan perselingkuhan, pihak yang percaya bebas bercerai, tetapi hanya setelah semua upaya rekonsiliasi gagal. Itulah dua kondisi yang diperbolehkan untuk perceraian menurut Kitab Suci. Tidak ada ketentuan perceraian seperti "perbedaan yang tidak dapat diperbaiki" atau "ketidakcocokan".

 

Baca Juga: Membangun Komunikasi dengan Pasangan Tak Berarti Harus Banyak Bicara, Begini Caranya...

 

Pandangan Tuhan mengenai perceraian dan menikah lagi sangat jelas dalam Kitab Suci. Penting bagi kita untuk memahami dan mengikuti ajaran-Nya dengan penuh pengertian dan pertimbangan. Semoga kita dapat memperjuangkan pernikahan kita dan menghormati hubungan ini sebagai cerminan kasih dan kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya. Meskipun perjalanan pernikahan bisa sulit, Tuhan menghendaki kita untuk tetap berjuang melalui kekuatan-Nya dan berpegang pada kebenaran Firman-Nya. Pernikahan adalah cara Tuhan menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada dunia yang penuh dengan kehancuran. Itu juga menjadi tempat di mana kita dapat belajar tentang pengampunan dan pemulihan yang Tuhan berikan.

Halaman :
1

Ikuti Kami